Wednesday, May 4, 2016

Adab suluk

PETUNJUK TEKNIS SULUK

4-7 Mei 2016/26-29 Rajab 1437

Latar Belakang

Berikut ini adalah kutipan shuhba Mawlana Syekh Hisyam Kabbani kepada para perwakilan zawiyah seluruh Indonesia dalam sebuah pertemuan yang diadakan di Tomang pada tanggal 1 September 2007.  Di dalamnya Mawlana memberikan arahan mengenai teknis khalwat yang akan dilaksanakan bagi mereka.  Arahan ini pula yang akan kita gunakan untuk pelaksanaan suluk pada tanggal 4-7 Mei 2016.  

Mawlana Syekh Hisyam bertanya apakah mereka bersedia menanggung beban dari jamaah zikir yang dipimpinnya.  Mereka menjawab ya.  Mawlana berkata bahwa memimpin zikir bukanlah hal yang mudah, seorang Imam zikir harus bisa bersikap lebih rendah hati daripada orang-orang yang dipimpinnya. Beliau kemudian melanjutkan bicaranya.

Seseorang Imam zikir bukanlah seorang khalifah, mereka hanya mendapat izin untuk membawakan zikir saja.  Mereka ibarat pipa saluran sambungan atau lebih tepat seperti gerbong kereta tanpa lokomotif, mereka tidak bisa membawa para penumpang ke mana pun, sedangkan lokomotif atau mesinnya adalah Mawlana Syekh Nazim (q).  Seorang Imam zikir tidak mempunyai fungsi apa-apa tanpa Mawlana Syekh Nazim (q).

Irsyad atau bimbingan adalah bukan perkara yang mudah, Imam zikir hanya diberi wewenang untuk memimpin zikir, untuk membuat orang-orang bahagia. Kalian tidak diizinkan untuk memberikan shuhba namun kalian boleh membacakan shuhba dari Mawlana Syekh dan jangan lupa untuk mengucapkan, “Madad ya Sayyidi, Madad ya Sulthanul Awliya,“ ketika akan membaca shuhba; agar kalian dapat memperoleh suatu pengertian dengan menghubungkan diri kepada Mawlana Syekh.

Untuk orang-orang yang telah dibaiat sebagai Imam zikir tadi, kalian akan menjalani 10 hari khalwat di bulan Zulhijjah sejak tanggal 1 hingga 10 di Zawiyah Cikreteg.  Sedangkan untuk Doktor Abdul Wahid akan menjalani khalwat selama 45 hari sejak bulan Zulqaidah.

Untuk Awradnya, kalian dapat memintanya dari Syekh Mustafa sebagaimana awrad yang dahulu pernah diberikan.  Kalian diizinkan untuk saling berkomunikasi dengan tulisan, tidak diperkenankan berbicara satu sama lain, tidak juga diperkenankan menggunakan sms atau handphone.  Jamhuri dan Barkah sebelumnya juga pernah khalwat.  Kalian juga bisa meminta awrad tersebut kepada mereka berdua.

Dengan khalwat tersebut mudah-mudahan akan dapat diperbaiki akhlak semuanya.

Pak Sunarto akan menyediakan keperluan makan selama khalwat, yaitu pada pagi dan sore, berupa sup.  “Apakah Sunarto bersedia?”  “Ya, Mawlana.”

Salat harus dilakukan secara berjamaah, setelah itu waktu dihabiskan dengan menjalankan awrad masing-masing dan membaca Alquran.

Waktu dan Tempat

Suluk akan dilakukan selama 4 hari, mulai Ashar hari Rabu, 4 Mei 2016/26 Rajab 1437 hingga waktu dhuha (sekitar pkl.09.WIB) hari Sabtu, 7 Mei 2016 di Zawiyah Cikereteg, Bogor, Jawa Barat.  Setelah selesai acara akan dilanjutkan dengan ziarah ke daerah Pancawati, Bogor dan diperkirakan selesai sekitar Zhuhur.   

Keberangkatan

Para peserta akan diberangkatkan dengan sebuah bus dari Sekretariat Nazimiyyah Indonesia, Jl, Warung Jati Barat Raya No.9C, Rt.012/09 Kalibata, Pancoran, Jakarta Selatan (diapit SPBU Total dan Polsek Pancoran) pada hari Rabu, tanggal 4 Mei 2016, pukul 09.00 WIB.

Peserta

Peserta adalah jemaah Naqsybandi Nazimiyyah dari berbagai daerah di Indonesia yang telah mendaftar kepada panitia.

Perlengkapan

Setiap peserta diharapkan membawa perlengkapan untuk suluk di antaranya: perlengkapan MCK, perlengkapan salat, kitab suci Alquran, kitab Dalail Khayrat, weker, kerudung putih yang tipis, senter dan alat tulis.

Adab Suluk (terlampir)

Khadim

Panitia akan melayani keperluan salik dalam hal menyediakan makanan dan minuman dan obat-obatan ringan yang diperlukan.  Komunikasi dengan panitia hanya boleh dilakukan secara tertulis.

Penutup

Demikianlah petunjuk teknis suluk ini dibuat.  Hal-hal yang belum jelas dapat ditanyakan kepada panita sebelum suluk dimulai.

Bismillahi ‘r-rahmani ‘r-rahim

ADAB SULUK

oleh Syekh Mustafa Mas’ud al-Haqqani

KETENTUAN  UMUM  DALAM  SULUK   

Pada hari Rabu, 4 Mei 2016 pada waktu Ashar, diniatkan dengan sepenuh hati dan dengan penuh greget untuk menjalani suluk bagi diri sendiri (tetapi juga dengan menyertakan dalam hati segenap keluarga dan anak-anak), supanya Allah (swt) berkenan mempertemukan semuanya dengan Rasulullah (saw), Imam Mahdi (a), dan Mawlana Syekh (q).  Sepanjang waktu suluk demikian untuk seterusnya.

Memohon dukungan Rasulullah (q), dukungan Mawlana Syekh Syarafuddin ad-Daghestani (q), Mawlana Syekh Abdullah Faiz ad-Daghestani (q), Mawlana Syekh Nazim al-Haqqani (q), Mawlana Syekh Hisyam Kabbani (q), dan seluruh awliya, begitu juga para wali abdal, bahkan setiap jin yang ada di sekitar lembah agar ikut mendukung/tidak mengganggu “Perjalanan hidup dan mati kita” ke arah senantiasa bersesuaian dengan tuntunan Rasulullah (saw) untuk menggapai dan menuju rida Allah (swt) bersama Rasulullah (saw).

Seluruh minat, perhatian, pikiran, ingatan dan kesadaran dikonsentrasikan ke dalam zikir dan fokus pertalian diri dengan para penuntun itu secara kontinu, hindari “dunia” sepanjang waktu suluk, dunia kita ceraikan untuk sementara untuk kelak kembali ke sana dengan hati dan pemikiran yang lebih tercerahkan.  Hindari lamunan, sensasi, cita rasa-kebendaan, nafsu, maupun percakapan dengan sesama serta aneka hal yang dapat mematahkan kontinuitas suluk, mengganggu konsentrasi/tawajjuh seperti sedang diupayakan selama periode suluk yang diambil.  Berserah dirilah kepada Allah (swt) dan mengandalkan taufiq, inayah, serta pertolongan dan tuntunan Allah (swt) agar dapat melaksanakan suluk sepenuhnya.  Dan dengan bersungguh-sungguh lalu lakukan “Mandi Suluk” mulai tidak bercakap-cakap dan kemudian menerapkan adab/amalan suluk yang ada.

Suluk dijalani dengan sepenuh usaha dan upaya untuk menegakkan kontinuitas dengan tidak membiarkan adanya waktu kosong dan sia-sia.  Salat dilakukan secara berjamaah utuh seperti petunjuk amalan harian yang ada, sejak Ashar-Maghrib-Isya pada hari itu, dst hingga akhir suluk.  

Setiap hari bangun 3 jam sebelum Fajar (pukul 02.00WIB dini hari) untuk mandi dan salat malam/Salat Najat dst secara berjamaah, demikian juga saat Khatm Khwajagan juga membaca Burdah dengan berjamaah.  Hanya porsi zikir harian, membaca Alquran, Dalail al-Khayrat, Hizbul A’zham, Hizbul Wiqayyah yang dilaksanakan sendiri-sendiri.

Hindari memandang yang tidak perlu, kepala berkerudung dan sorot-mata mendunduk terus, hanya memandang dunia esoterik dan kehidupan setelah mati.  Hindari percakapan.  Tetapi jika sangat memerlukan komunikasi yang tak terelakkan dengan sesama boleh menuliskan urgensinya tetapi tidak membicarakannya karena hal itu dapat memutus tawajjuh dalam hati.  Tidak perlu memberi nasihat, nasihatilah diri sendiri agar bisa tahannuts sepenuhnya (membaguskan kehidupan di dunia mikro sendiri, dalam kesadaran hati).

Setiap hari boleh menikmati semangkuk sup lentil (atau sup kacang merah) dan 2 sendok nasi antara jam 10-11 pagi, begitu juga sebelum Maghrib.  Setiap hari boleh memakan 7 butir kurma, bebas menikmati teh atau air putih sepanjang hari.  Pada hari terakhir boleh memasak daging, ayam atau ikan; supaya mensyukuri kenikmatan jasadi untuk semakin menghidupkan kesyukuran rohani.

RABU, 4 MEI 2016

Menjelang Ashar: Niat untuk melakukan Suluk

Mandi/ghusl  

Salat Ashar berjamaah

kembali ke bilik masing-masing, lalu lakukan:

ZIKIR HARIAN

1.      Allah, Allah (48.000 kali)

2.      Allahumma shalli ‘ala Muhammadin wa ‘ala aali Muhammadin wa sallim (2.500 s/d 24.000 kali)

3.      Subhanallah wa bihamdihi, subhanallahil azhim, astaghfirullah (100 kali)  

4.      Astagfirullahal azhim wa atuubu ilayh (100 kali)

5.      Subbuhun quddusun Rabbuna wa rabbul malaa-ikati war-ruh (100 kali)

6.      Bismillahir rahmaanir rahiim, Dzalika taqdirul ‘azizil ‘aliim (100 kali)

7.      Hasbunallah wa ni’mal wakiil (100 kali)

8.      La hawla wala quwwata illa billahil ‘aliyyil azhiim (100 kali)

9.      Alhamdulillah ‘ala ni’matil Islam wa syarafil Iman (100 kali)

10.  Asyukrulillah (100 kali)

11.  Subhanallah (100 kali)

12.  Allahu akbar (100 kali)

13.  Ya Waduud (700 kali)

14.  Astaghfirullah (700 kali)

15.  Al-Ikhlash (1000 kali)

16.  La ilaha ill-Allah (1000 kali)

17.  Alquran (1 s/d 7 Juz)

18.  Dalail Khayrat (1 Hizib/1 Juz Alquran)

19.  Hizbul A’zham (1 Hizib Harian)

Salat Maghrib

Salat Isya

Adab Laylatul Isra wal Mi’raj

Doa Agung dari Sulthan al-Awliyaa (ad-Du`a ul-Maatsuur)

Khatm Khwajagan

Mawlid

Salat Tasbih

Salat Syukur dengan Doa Qunut

Ihda

Doa dan al-Fatihah

Kembali ke bilik masing-masing untuk meneruskan awrad harian atau istirahat

KAMIS, 5 MEI 2016

PROSEDUR SEJAK DINI HARI

Bangun pukul 2.00WIB dini hari

Mandi

Niat: Nawaitul arbain, nawaitur riyadhah, nawaitul khalwah, nawaitul uzlah, nawaitus suluk, nawaitul I’tikaf, nawaitut tadabbur, nawaitus shaum fi hadzihiz zawiyah al-mubarakah lillahi ta’ala.

Shalat Syukril Wudu

Setelah salam kemudian berdiri, dan membaca

100X YA HALIM  (untuk melembutkan hati)

100X YA HAFIZH (untuk menentramkan hati dalam genggaman Allah)

Bayangkan diri Anda berada di Rawdhah dekat makam Rasulullah (saw), kemudian ucapkan: ALLAHUMMA SHALLI ‘ALA MUHAMMADIN WA’ALA ALI MUHAMMADIN WA SALLIM 100X

Niatkan agar Allah mempertautkan/mempertemukan kita dengan Rasulullah (saw), Imam Mahdi (as), dan Mawlana Syekh (q).

Lakukan prosesi berdoa/munajat/tawajjuh sebagai berikut:

(i) Ya Rabbal’izzati wal Azhamati wal Jabaruut

(ii) Bergerak 3 langkah ke depan diawali dengan kaki kanan sambil berdoa:

Ya Rabbi aku melangkah ke Hadirat-Mu untuk meraih maqam fana dalam Diri-Mu, lenyapkanlah diriku ini Ya Rabbi agar aku melebur dalam DIRI-MU, aku bergerak menuju Samudra Keesaan WAHDANIYAH-MU, jangan Engkau campakkan diriku ini sehingga kucapai kesendirianku bersama-Mu di maqam fardaniku.  Ya Rabbi seluruh hidupku telah kuhabiskan dalam kekafiran, syirik, dan berperilaku buruk, rasanya tidak ada amalanku yang pantas Engkau terima, tetapi Engkau Adalah Allah (swt) Yang tidak akan mengusir orang yang datang ke Pintu-Mu; lagi pula tak ada orang yang datang ke depan Pintu-Mu  melainkan dengan Pertolongan dan Rahmat-Mu jua.

Ya Rabbi, aku datang kepada-Mu dengan keburukan dan kesalahanku, kini aku ingin memaklumkan Islamku bagaikan baru masuk Islam, aku serahkan segalanya ke dalam Genggaman-Mu, kehidupanku-kematianku, kehidupanku di alam baka nanti, kiamatku, seluruh hartaku kuserahkan hanya kepada-Mu dan Engkaulah Yang Mengawasiku.

Ya Rabbi, aku tidak memiliki apapun selain ego dan jiwaku, aku tak dapat mendatangkan kebaikan atau keburukan kepada diriku sendiri, tidak juga hidup ataupun kematian pada diriku ini, semuanya telah kuserahkan kepada-Mu, seluruh penilain-Mu terhadapku, dan semua pertanyaan-Mu padaku, serta seluruh jawabanku telah kuserahkan kepada-Mu. Leherku ada di genggaman-Mu, aku tidak berdaya dalam menjawab pertanyaan-Mu bahkan jawaban yang terkecil pun aku tak mampu menjawabnya.  Dengan segala kelemahan dan ketidakberdayaanku inilah aku datang ke pintu-Mu.

Ya Rabbi, jika Engkau mempunyai 2 pintu bagi hamba-Mu untuk memasukinya, 1 untuk semua hamba-Mu yang beriman dan 1-nya lagi untuk hamba-Mu yang kafir; aku masuk melalui pintu yang kedua dan itulah pintu yang pantas untukku.  Aku nyatakan pada-Mu bahwa aku harus memperbarui iman dan syahadat serta amalanku; dan syahadat inilah yang menjadi amalan pertamaku sesudah kuserahkan diriku pada-Mu.  Engkaulah Yang menjadi Wakil bagiku.

YA WAKIL, Hasbunallah wa Ni’mal Wakil, wala hawla wala quwwata illa billahil ‘aliyyil azhim  

Asyhadu anlaa ilaaha illallah wa-asyhadu anna Muhammadan ‘Abduhu wa Rasuuluh (3X sambil mengacungkan jari telunjuk).

Ya Rabbi, sebagaimana Mawlana Syekh Abdullah Faiz ad-Daghestani (q) dan Syekhku, Mawlana Syekh Nazhim al-Haqqani (q) melakukan khalwat saat ini, maka apapun niat yang beliau miliki maka Ya Allah jadikanlah aku menyatu dengan niat beliau-beliau itu, dan dengan itulah aku datang ke depan pintu-Mu Ya Allah.

Ya Rabbi, aku masuk dan bergerak ke dalam Samudra berkah-Mu; di bulan-Mu yang penuh pujian.  Ya Rabbi janganlah Engkau menolakku dari Pintu-Mu, dan janganlah Engkau meninggalkan diriku kepada egoku walau sekejap, dan aku mohon ampunan…

Dengan mengucapkan  (Astaghfirullahal Azhim  70X )

Kemudian duduk kembali

Tutupi diri dengan kain putih yang tipis, dan buat penerangan yang redup dengan cahaya lilin.

Fatiha – (dengan abstraksi makna seperti tajalli yang turun di Mekah).

Amanar Rasulu bima unzila ilayhi min rabbihi wal mu’minun

Al-Insyirah 7X

Al-Ikhlash 11X

Al-Falaq

An-Nas

La ilaaha illallah 10X

Shalawat 10X

Ihda: Ila Syarafin Nabiyyi wa aalihi washahbihil kiram, wa ilaa Masya-ikhina fith Thariqatin Naqsybandiyyatil Aliyah, khassatan ila ruhi imamith thariqah wa ghawtsil khaliqah Syah Bahauddin Naqsyband Muhammadinil Uwaysil Bukhari, wa ila Mawlana Sulthanil Awliya Syaikh Abdullah Faiz Ad-Daghistani wa Syaikhina Sulthanil Awliya Mawlana Syaikh Muhammad Nazim al-Haqqani

Fatiha - (dengan abstraksi makna seperti menjadi tajalli di Madinah).

Ya Allah 5000X (dalam hati)

Ya Allah 5000X (dengan suara).

Shalatun Najat

Shalat Syukur

Shalat Tasabih

Shalatut Tahajjud

Shalawat  1000X

Al-Ikhlash 100X  (dengan niat mengganti 1 juz Al-Quran)

Shalawat 100X  (dengan niat mengganti Dalail-Khairat)

Ya Shamad 500X (niat menekan ego ke limit terendah)

Astaghfirullah 500X  (dengan niat untuk dosa/kelalaian kita sejak diciptakan diri kita sampai hari ini Allah akan mengampuni dosa-dosa kita)

Astaghfirullah 500X  (diniatkan sejak saat ini sehingga hari terakhir di bumi Allah akan melindungi kita dari dosa)

Alhamdulillah  500X  (sebab Allah tidak menciptakan kita sebagai ummat nabi lain).

Alhamdulillah  500X  (sebab Allah telah menciptakan kita sebagai ummat Nabi Muhammad (saw), dan mendapat kehormatan dari Sayyidina Abu Bakr Ash Shiddiq (r), Mawlana Abdul Khaliq Al-Ghujduwani (q), Syaikh Sayyid Syarafuddin Ad-Daghestani (q), Syaikh Abdullah Faiz Ad-Daghestani (q), dan kehormatan menjadi pengikut Mawlana Syaikh Muhammad Nazim Al-Haqqani (q).

Salat Subuh

Salat Isyraq

kembali ke bilik masing-masing untuk melakukan awrad harian

Salat Dhuha

Burdah

Salat Zhuhur

Salat Ashar

Salat Maghrib

Salat Isya

Zikir Khatm Khawjagan dan Mawlid malam Jumat

Kembali ke bilik masing-masing untuk meneruskan awrad harian atau istirahat

JUMAT, 6 MEI 2016

Lakukan prosedur sejak dini hari hingga Isyraq, dan Dhuha

Salat Jumat berjamaah

Salat Ashar

Salat Maghrib

Salat Isya

Zikir Khatm Khawjagan dan Mawlid malam Jumat

SABTU, 7 MEI 2016

Lakukan prosedur sejak dini hari hingga Isyraq, dan Dhuha

Suluk selesai diakhiri dengan sarapan bersama sebagai tanda syukur kepada Allah

Ziarah dan kembali ke Jakarta


Doa Agung Sulthan al-Awliya

Sulthan al-Awliya Mawlana Syekh `Abdullah Faiz ad-Daghestani (q)

(ad-du`aa ul-maatsuur li Sulthan al-Awliyaa)

Bismillaahir Rahmaanir Rahiim

Allaahumma shalli `alaa Muhammadin an-Nabii il-mukhtaar `adada man shalla `alayhi minal-akhyaar, wa `adada man lam yushalli `alayhi minal-ashraar, wa `adada qatharaatil amthaar, wa `adada amwaajil bihaar, wa `adadar rimaali wal qifaar, wa `adada awraaqil asyjaar, wa `adada anfaasil mustaghfiriina bil ashaar, wa `adada akmaamil atsmaar, wa `adada maa kaana wa maa yakuunu ila yawmilhasyri wal qaraar, wa shalli `alayhi maa ta`aaqabul laylu wan-nahaaru, wa shalli `alayhi maakhtalaful malawaan wa ta`aaqabul `ashraan wa karraral jadiidaan wastaqbalal farqadaan, wa balligh ruuhahu wa arwaahi ahli baytihi minnaa tahiyyatan wattasliim wa `alaa jamii`il anbiiyaa-i wal mursaliin wal-hamdu lillaahi Rabbil `alamiin.

Allaahumma shalli `alaa Muhammad wa `alaa aali Muhammadin bi `adadi kulli dzarratin alfa alfa marrah. Allaahumma shalli `alaa Muhammadin wa `alaa aali Muhammadin wa shahbihi wa sallim. Subbuuhun qudduusun Rabbunaa wa Rabbul malaa-ikati war-Ruuh, Rabbighfir warham wa tajaawaz `amma ta`lamu innaka Antal A`azzul Akram.

Bismillaahir Rahmaanir Rahiim

Allaahumma innii astaghfiruka min kulli maa tubtu `anhu ilayka tsumma `udtu fiih, wa astaghfiruka min kulli maa 'aradtu bihi wajhaka fakhaalithnii fiihi maa laysa fiihi ridhaa-uka, wa astaghfiruka linni`ami allatii taqawwaytu bihaa `alaa ma` shiyatik, wa astaghfiruka minadzdzunuubi allatii laa ya`lamuha ghayruka wa laa yaththali`u 'alayhaa ahadun siwaaka, wa laa tasa`uhaa illaa rahmataka wa laa tunjii minhaa illa maghfiratik wa hilmuka, laa ilaaha illa-Anta, subhaanaka innii kuntu minazh-zhaalimiin.

Allaahumma innii astaghfiruka min kulli zhulmin zhalamtu bihi `ibadaka, Fa ayyumaa `abdun min `ibaadika aw `amatin min `imaa-ika zhalamtu fii badanihi aw `irdhihi aw-maalihi fa-a`thihi min khazaa'inik allatii laa tanqush, wa as-aluka an tukrimanii bi-rahmatika allatii wasi`at kulla syay-in wa laa tuhiinanii bi`adzaa bika, wa tu’thiiyanii maa as-aluka fa-innii haqiiqun bi-rahmatika yaa arhamar-Raahimiin, wa shalla-Allahu `alaa Sayyidinaa Muhammadin wa aalihi wa shahbihi ajma`iin, wa laa hawla wa laa quwwatta illa billahil-`Aliyyil-`Azhiim.

Bismilaahir Rahmaanir Rahiim

Bismillaahin-Nuur, nuurun `alaa nuur, alhamdulillaahil-ladzii khalaqas-samaawaati wal ardhi wa ja`alazh-zhulumaati wan-nuur wa anzala at-tawraata `alaa jabalith-Thuuri fii kitaabin masthuur. Walhamdulillaahil-ladzii huuwa bil-Ghanii madzkuur.Wa bil-`izzi wal-Jalaal masy-hur, wal-hamdulillaahil-ladzii khalaqas-samaawaati wal ardhi wa ja`alazh-zhulumaati wan-nuur tsummal-ladziina kafaruu bi-rabbihim ya`diluun. Kaaf, Haa, Yaa, `Ayn, Shaad, Haa, Miim, `Ayn, Siin, Qaaf. Iyyaaka na`budu wa iyyaaka nasta`iin. Yaa Hayyu Yaa Qayyuum. Allaahu lathiifun bi `ibaadihi yarzuqu man yasyaa-u wa Huuwal-Qawiyyul-`Aziiz. Yaa Kaafii kulla syay-in ikfinii wash-rif`anii kulla syay-in innaka `alaa kulli syay-in Qadiir.

Allaahumma ya Katsiran-nawaali wa yaa Daa-imal-wishaali wa yaa Husnal fi`aali wa yaa Raaziqal `ibaadi `alaa kulli haal.

Allaahumma in dakhalasy-syakku fii iimaanii bika wa lam a`lam bihi tubtu`anhu wa aquulu laa ilaaha ill-Allaah Muhammadur-Rasulullaah (s).

Allaahumma in dakhalasy-syakka wal kufri fii tawhiidii iyyaka wa lam a`lam bihi tubtu`anhu wa aquulu laa ilaaha ill-Allaah Muhammadur-Rasulullaah (s)

Allaahumma in dakhalasy-syubhata fii ma`rifatii iyyaka wa lam a`lam bihi tubtu`anhu wa aquulu laa ilaaha ill-Allaah Muhammadur-Rasulullaah (s)

Allaahumma in dakhalal-`ujubu war-riyaa’ wal-kibriiyaa’ wa sum`atu fii `ilmii wa lam a`lam bihi tubtu`anhu wa aquulu laa ilaaha ill-Allaah Muhammadur-Rasulullaah (s)

Allaahumma in jaral-kadzibu `alaa lisaanii wa lam a`lam bihi tubtu`anhu wa aquulu laa ilaaha ill-Allaah Muhammadur-Rasulullaah (s)

Allaahumma in dakhalan-nifaaq fii qalbii minadz-dzunuubish shaghaa-iri wal kabaa-iri wa lam a`lam bihi tubtu`anhu wa aquulu laa ilaaha ill-Allaah Muhammadur-Rasulullaah (s)

Allaahumma maa asdayta ilayya min khayrin wa lam asy-kuruka wa lam a`lam bihi tubtu`anhu wa aquulu laa ilaaha ill-Allaah Muhammadur-Rasulullaah (s)

Allaahumma maa qadarta lii min amrin wa lam ardhaahu wa lam a`lam bihi tubtu`anhu wa aquulu laa ilaaha ill-Allaah Muhammadur-Rasulullaah (s)

Allaahumma maa an`amta `alayya min ni`matin fa `ashaytuka wa ghafaltu `an syukrika wa lam a`lam bihi tubtu`anhu wa aquulu laa ilaaha ill-Allaah Muhammadur-Rasulullaah (s)

Allaahumma maa mananta bihi `alayya min khayrin fa lam ahmaduka `alayhi wa lam a`lam bihi tubtu`anhu wa aquulu laa ilaaha ill-Allaah Muhammadur-Rasulullaah (s)

Allaahumma maa dhayya`tu min `umrii wa lam tardha bihi tubtu`anhu wa aquulu laa ilaaha ill-Allaah Muhammadur-Rasulullaah (s)

Allaahumma bimaa awjabta `alayya minan-nazhaari fii mash-nuu`aatika fa-ghafaltu `anhu wa lam a`lam bihi tubtu`anhu wa aquulu laa ilaaha ill-Allaah Muhammadur-Rasulullaah (s)

Allaahumma maa qashartu `anhu aamaalii fii rajaa-ika wa lam a`lam bihi tubtu`anhu wa aquulu laa ilaaha ill-Allaah Muhammadur-Rasulullaah (s)

Allaahumma ma`tamadtu `alaa ahadin siwaaka fiisy-syadaa-idi wa lam a`lam bihi tubtu`anhu wa aquulu laa ilaaha ill-Allaah Muhammadur-Rasulullaah (s)

Allaahumma maa astana`tu bi-ghayrika fisysyadaa-idi wan-nawaa-ibi wa lam a`lam bihi tubtu`anhu wa aquulu laa ilaaha ill-Allaah Muhammadur-Rasulullaah (s)

Allaahumma in zalla lisaanii bissu-aali li-ghayrika wa lam a`lam bihi tubtu`anhu wa aquulu laa ilaaha ill-Allaah Muhammadur-Rasulullaah (s)

Allaahumma maa shaluha min sya’nii bi-fadhlika faraa-iytuhu min-ghayrika wa lam a`lam bihi tubtu`anhu wa aquulu laa ilaaha ill-Allaah Muhammadur-Rasulullaah (s)

Allaahumma bi-haqqi laa ilaaha ill-Allaah wa bi-`izzatih

Wa bi-haqqil arsy wa `azhamatih

Wa bi-haqqil kursi wa sa `atih

Wa bi-haqqil qalami wa jariyatih

Wa bi-haqqil lawhi wa hafazhatih

Wa bi-haqqil miizaani wa khifatih

Wa bi-haqqish shiraathi wa riqqatih

Wa bi-haqqi Jibriil wa amaanatih

Wa bi-haqqi ridhwaan wa jannatih

Wa bi-haqqi Maalik wa zabaaniiyatih

Wa bi-haqqi Miikaa-iil wa syafaqatih

Wa bi-haqqi Israafiil wa nafkhatih

Wa bi-haqqi `Azraa-iil wa qabdhatih

Wa bi-haqqi Aadam wa shafwatih

Wa bi-haqqi Syu`ayb wa nubuuwwatih

Wa bi-haqqi Nuuh wa safiinatih

Wa bi-haqqi Ibraahiim wa khullatih

Wa bi-haqqi Ishaaq wa diyaanatih

Wa bi-haqqi Ismaa`iil wa fidyatih

Wa bi-haqqi Yuusuf wa ghurbatih

Wa bi-haqqi Muusa wa aayaatih

Wa bi-haqqi Haaruun wa hurmatih

Wa bi-haqqi Huud wa haybatih

Wa bi-haqqi Shaalih wa naaqatih

Wa bi-haqqi Luth wa jiiratih

Wa bi-haqqi Yuunus wa da`watih

Wa bi-haqqi Danyaal wa karaamatih

Wa bi-haqqi Zakariyaa wa thahaaratih

Wa bi-haqqi `Iisa wa siyaahatih

Wa bi-haqqi Sayyidinaa Muhammadin wa syafaa`atih

An taghfirlanaa wali waalidaynaa wali `ulamaa-inaa wa an ta’khudza bi-yadii wa tu`thiiyanii su-aalii wa tubalighanii aamaalii wa an tashrifa `anii kulla man `aadaanii bi-rahmatika yaa arhamar-raahimiin wa tahfazhnii min kulli suu-in, laa ilaaha illa Anta, subhaanaka inni kuntu minazh-zhaalimiin

Yaa Hayyu, yaa Qayyuum laa ilaha illa Anta, yaa Allaah, astaghfiruka wa atuubu ilayk/fastajabnaa lahu wa najaynaahu minal ghamm wa kadzaalika nanjiyul mu’miniin/wa hasbunallaahu wa ni`mal wakiil hasbii Allaahu laa ilaaha illa huwa `alayhi tawakkaltu wa Huwa rabbul `Arsyil Azhiim wa laa hawla wa laa quwwata illa billaahil `Aliyyil `Azhiim/wa shallallaahu `alaa Sayyidinaa Muhammad wa `alaa aalihi wa shahbihi wa sallim ajma`iin/subhaana rabbika rabbil `izzati `amaa yashifuun wa salaamun `alal mursaliin wal hamdulillaahi rabbil `aalamiin

Bismillahir Rahmaanir Rahiim

Allaahumma inni as-aluka bi musyaahadati asraaril muhibbiin wa bil khalwatillatii khashashta bihaa sayyidal mursaliin hiina asrayta bihi laylatas saab`i wal `isyriin an tarham qalbii al haziin wa tujiibu da`wati yaa Akramal Akramiin yaa Arhamar Raahimiin/ wa shallallaahu `alaa Sayyidinaa Muhammad wa `alaa aalihi wa shahbihi wa sallim ajma`iin

Bismillahir Rahmaanir Rahiim

Laa ilaaha ill-Allah Muhammadur-Rasuulullaah yaa Rahmaan yaa Rahiim yaa Musta`aan yaa Allah yaa Muhammad shalla-Allaahu `alayhi wa sallam yaa Abaa Bakr yaa `Umar yaa `Utsmaan yaa `Alii yaa Hasan yaa Husayn yaa Yahyaa yaa Haliim yaa Allah wa laa hawla wa laa quwwata illa billaahil `Aliyyil `Azhiim

Astaghfirullaah dzul Jalaali wal ikraam min jamii`idz-dzunuub wal atsaam/aamiin

Sumber:

The Naqshbandi Sufi Tradition: Guidebook of Daily Practices and Devotions

by Shaykh Muhammad Hisham Kabbani

© 2004, Islamic Supreme Council of America



Friday, April 29, 2016

Thursday, April 21, 2016

Ziarah wali nasional

http://www.muslimoderat.com/2016/03/inilah-daftar-nama-dan-alamat-makam.html?m=1#ixzz42vYIoAmF

Tuesday, April 19, 2016

Rangkuman doa

Sayyid ad-du`a Grandsyekh `Abdullah al-Fa’iz ad-Daghestani (q)


Allâhumma ‘j`al awwala liqâina (atau yawmina, atau syahrina, atau majlisina) hadzâ shalâhan wa awsathahu falâhan wa akhirahu najâhan

Allâhumma ‘j`al awwalahu rahmatan wa awsathahu ni`matan wa akhirahu takrîmatan wa maghfirah

Alhamdulillâhi ‘l-ladzî tawâdha`a kullu syay’in li`azhamatih wa dzalla kullu syay’in li `izzatih wa khada`a kullu syay’in li mulkihi wa ‘s-taslama kullu syay’in li qudratih

Alhamdulillâhi ‘l-ladzî sakana kullu syay’in li-haybatihi wa azh-hara kullu syay’in bi-hikmatihi wa tashâghara kullu syay’in li-kibriyâ-ihi

Allâhumma ayqizhnâ fî ahabbi sâ`âti ilayka yâ Wadûd

Yâ dzu'l-`arsyi ‘l-majîd fa`alun limâ yurîd hal atâka hadîtsu ‘l-junûd fira`awna wa tsamûd bali ‘L-ladzîna kafarû fî takdzîbin w’Allâhu min warâ’ihim muhîth,  bal huwa qur’anun majîdun fî lawhin mahfûzh.

Allâhumma ‘ghfir lî dzunûbî wa li-wâlidayya kamâ rabbayânî shaghîran wa li-jamî`i ‘l-mu’minîna wa ‘l-mu’minâti wa ‘l-muslimîna wa ‘l-muslimâti al-ahyâ’i minhum wa ‘l-amwât wa ‘ghfir lanâ wa li-ikhwâninâ ‘L-ladzîna sabaqûna bi ‘l-îmâni wa lâ taj`al fî qulûbina ghillan li ‘L-ladzîna âmanû rabbanâ innaka ra’ûfun rahîm yâ arhama ‘r-râhimîn

Allâhumma bi-jâhi habîbika ‘l-Mushthafâ wa rasûlika ‘l-Murtadhâ, wa bi-jâhi awliyâ’ika ‘l-kirâm wa bi-jâhi shahâbatihi ‘l-fikhâm, wa bi-jâhi Sulthân al-Awliyâ’ Sayyidî asy-Syaykh Abdillâhi ‘l-Fâ’izi ‘d-Dâghistânî wa Sayyidî asy-Syaykh Muhammad Nâzhim ‘l-Haqqâni an lâ tada fî majlisinâ hadzâ dzanban illa ghafartahu, wa lâ daynan illa qadhaytahu, wa lâ marîdhan illa syafaytahu, wa lâ hâjatan min  hawâ`ij ad-dunyâ wa ‘l-âkhirat illa qadhaytahâ wa yassartahâ, Allâhumma yassir umûranâ w’aqdhi duyûnanâ, wa farrij humûmanâ wa farrij kurûbanâ wa tsabbit aqdâmanâ w’anshurnâ `alâ anfusinâ wa `alâ ‘l-qawmi ‘l-kâfirîn

Allâhumma ‘syfinâ w ‘asyfi mardhânâ wa mardha ‘l-muslimîna  wa `âfinâ wa `âfi mardhânâ wa mardha ‘l-muslimîna, wa taqabbal minnâ yâ Rabbanâ yâ Allâh wa amidanâ bi-`umurinâ li-idrak Shâhiba ‘z-Zamân Sayyidinâ Muhammad al-Mahdi `alayhi ‘s-salâm wa Sayyidinâ `Îsâ `alayhi ‘s-salâm, w‘arzuqnâ syafâ`ata ’n-Nabî al-Mushthâfâ `alayhi afdhala ‘sh-shalâti wa ‘s-salâm, w’aj`alnâ an narâhu fî ‘d-dunyâ wa fî ‘l-akhirati w’asqinâ min hawdhihi syarbatan hanî’attan marî’attan lâ nazhmâ’u ba`dahâ abada

Allâhumma innâ nas’aluka min khayri mâ sa’alaka minhu Sayyidinâ Muhammadin (s) wa nasta`idzuka min syarri mâsta`âdzaka minhu Sayyidinâ Muhammad (s) wa ‘l-hamdulillâhi Rabbi ‘l-`âlamîn.  Rabbanâ taqabbal minnâ bi-hurmati man anzalta `alayhi sirri Sûratu ‘l-Fâtihah

Wednesday, April 6, 2016

Penebusan

"Subhaana ‘Lladzi yusabbihu ‘r-Ra`du bi-hamdihi wa ‘l-mala'ikatu min khiifatihi wa Huwa `ala kullu syay'in Qadiir."


"Subhaana ‘Lladzi yusabbihu ‘r-Ra`du bi-hamdihi wa ‘l-mala'ikatu min khiifatihi wa Huwa `ala kullu syay'in Qadiir."  Sayyidina Abbas (r) berkata, “Barang siapa yang mengucapkan ini dan sesuatu terjadi padanya, aku akan bertanggung jawab atas penebusan (hukumannya).”  Oleh sebab itu, bacalah berulang-ulang setiap waktu. "Subhaana ‘Lladzi yusabbihu ‘r-Ra`du bi-hamdihi wa ‘l-mala'ikatu min khiifatihi wa Huwa `ala kullu syay'in Qadiir."

Monday, February 29, 2016

Doa agar menjadi syuhada

Doa Sayyidina Yunus (`alayhi-s-salam)

Jika Anda membaca doa ini 40 kali, Anda akan mendapat keberkahan sebagai seorang syahid ketika Anda meninggalkan dunia ini.

Ya Hayyu Ya Qayyum
Laa ilaha illa Anta subhaanaka innii kuntu mina 'zh-zhaalimiin
Fastajabnaa lahu wa najjaynaahu mina 'l-ghammi wa kadzalika nunji 'l-mu'miniin.

یا حی و یا قیوم
لَّآ إِلَـٰهَ إِلَّآ أَنتَ سُبۡحَـٰنَكَ إِنِّى ڪُنتُ مِنَ ٱلظَّـٰلِمِينَ (٨٧) فَٱسۡتَجَبۡنَا لَهُ ۥ وَنَجَّيۡنَـٰهُ مِنَ ٱلۡغَمِّ‌ۚ وَكَذَٲلِكَ نُـۨجِى ٱلۡمُؤۡمِنِينَ (٨٨)

Wahai Yang Maha Hidup, wahai Yang Maha Mandiri, Yang Melindungi semua yang ada,
Tiada Tuhan selain Engkau.  Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim.  Maka Kami telah memperkenankan doanya dan menyelamatkannya dari pada kedukaan. Dan demikianlah Kami selamatkan orang-orang yang beriman. (QS Al-Anbiyaa, 21: 87-88)
______________

#Doa #ShaykhNurjanMirahmadi #Quran #Nurmuhammad.com

Monday, February 15, 2016

Green cloth

Rahasia Menakjubkan Warna Hijau Yang Tak Kita Sadari

Ini adalah apa yang Maulana (Syaikh Nadzim Haqqani) katakan. Instruksi baru dari surga mengenai warna hijau. Berikut adalah  Perintah Syah e Mardhan (q):

Hijau adalah warna kehidupan.
Ini adalah warna yang diturunkan dari langit.
Ini adalah warna Sundus al-Ahdhar, sutra hijau dipakai di surga oleh penduduknya.

Ini adalah warna kesukaan dari penduduk surga.
Ini adalah warna yang paling indah yang ditemukan di surga.

Ini adalah warna yang paling indah dari semua warna.
Ini adalah warna yang dicintai oleh para malaikat.

Di mana, bagaimana dan mengapa untuk menggunakan warna hijau?

Kenakan warna hijau.

Sundus al-Ahdhar adalah sutra hijau surga, wanita harus mengenakan syal sutra hijau di kepala mereka. Jika mereka ingin, mereka dapat menambahkan bordir atau menjahit untuk meningkatkan keindahannya.

Mereka juga harus menggunakan topi batin yang hijau. Pria juga harus menggunakan topi (kopyah) hijau (non-sutra). Mereka yang menutupi kepala mereka dengan warna hijau, akan bebas dari sakit gigi, sakit kepala dan migrain. Pria harus mengenakan pakaian hijau dan rompi hijau.

Maulana berkata, "Wahai wanita, mulai saat ini hiasilah diri kalian dengan yang hijau!" Wanita harus mengenakan pakaian hijau gelap (tua), bukan hijau muda. Kita harus mencoba untuk menggunakan setidaknya satu warna pakaian hijau setiap saat.

Mungkin dengan menggunakan selendang (syal) hijau di sekitar leher kita atau menggunakan sorban hijau atau penutup kapas di kepala kita yang warna hijau.

Setidaknya, perempuan dan laki-laki harus ada pin roset hijau di dada mereka.
Wanita harus mengenakan batu berwarna hijau dalam perhiasan mereka.

Gunakan yang hijau. Cat luar rumah kalian dengan warna hijau dan pilihlah furnitur hijau. Cat mobil kalian dengan warna hijau dan beritahulah semua orang untuk menggantung bendera hijau di punggung mobil mereka.

Jika mereka suka, mereka bisa menggantung di mobil mereka, bendera lama Mesir, itu adalah hijau. Atau bendera Turki tua, yang juga hijau. Menggantung bendera hijau dengan 3 bulan sabit, atau dengan 3 bintang, atau dengan 1 bulan sabit dan bintang 3. Tidak akan ada kecelakaan atau bencana yang akan menimpa mereka insya Allah.

Hijau alami. Gunakan hijau yang tumbuh di alam, karena mereka tumbuh dengan kekuatan Allah Swt. Tanamlah sayuran hijau dan pepohonan! Bersamalah dengan alam dan sekitar tanaman hijau. Makan daging membuat Anda menjadi binatang liar (sebagai hewan karnivora liar yang makan daging sangat ganas). Makan sayur dan sayuran hijau itu akan membuat Anda ramah dan lembut (seperti hewan domestik yang makan tanaman hijau). Ini membuat Anda baik dan anggun (gentleman).

MANFAAT MEMAKAI ATAU MENGGUNAKAN HIJAU:

1. Hijau adalah perlindungan surgawi, perlindungan dari atas. Ada malaikat khusus yang turun dari langit, yang melindungi mereka yang memakai hijau. Jika semua yang dari langit membawa hukuman/bencana turun ke bumi pada satu waktu, itu tidak akan menyentuh orang-orang yang memiliki hijau pada mereka orang-orang ini terlihat dari atas dan berada di bawah perlindungan. Ada perlindungan Ilahi dalam warna hijau.

2. Kita harus mencintai warna hijau dan memperhatikan hal itu. Ada kesulitan yang menimpa orang-orang yang tidak menyukainya. Tidak ada salahnya menyentuh orang yang mencintai hijau di dunia dan di akhirat.

3. Jika manusia menggunakan hijau secara luas di seluruh dunia, berat di dunia akan dicabut. Jika hijau berlaku di dunia, semua masalah akan pergi dan akan selesai.

4. Tidak ada perlindungan untuk warna lain, hanya untuk hijau.

5. Warna lainnya (tidak membawa) keberuntungan, hanya warna hijau yang membawa keberuntungan. Mereka yang memakai dan menggunakan hijau, akan beruntung.

6. Ini adalah fashion terbaru dari Islam di akhir zaman (yaitu pakaian Islam dalam nuansa hijau). Segala sesuatu selain ini akan membawa musibah menimpa mereka.

7. Hijau mencegah adzab. Ternyata akan menjauhkam bencana dan kecelakaan.

8. Buaya tidak akan menyerang orang yang memakai hijau.

9. Ular tidak akan menyerang orang yang memakai hijau. Ular sebaliknya akan membunuh seseorang yang sedikit hijau pada dia!

10. Hijau membawa keagungan, maka malaikat menyukainya.

11. Hijau memberikan kenyamanan, memberikan keindahan, memberikan ketenangan, memberi berkah.

Setelah Sayyidina Khidr minum dari Fountain of Youth (air kehidupan), ia diberikan hidup sampai saat ini, dan dikenal sebagai Green Man (Khidir/hijau). Mereka yang telah melihatnya, telah melihat aura hijau menyebar di daerah sekitarnya.

Hijau adalah simbol yang sangat kuat dalam dunia ilmiah, itu adalah warna dari klorofil. Baca Suhbah ini dengan Maulana pada maknanya. Sebuah perintah yang sama untuk memakai hijau dikeluarkan selama Safar awal tahun ini, sebagai perlindungan terhadap bencana.

Warna merah tidak baik. Orang-orang saat ini memiliki kecenderungan untuk merah, itu adalah tren fashion baru sekarang. Ini adalah warna terburuk. Maulana mengatakan, "Warna merah melambangkan api. Api adalah tanda ketidakpercayaan. Api akan membakar orang-orang yang menggunakannya!"

Berpakaian seperti Maulana. Maulana menyarankan cucunya, "Ambil beberapa hal oleh kalian dari apa yang saya kenakan. Yang saya memakainya. Hal ini menjadi seperti sebuah baju besi untuk kalian dengan izin Allah."

Bagi mereka yang tidak bisa mendapatkan akses ke sepotong pakaian Maulana, Maulana menyarankan bahwa kita harus membuat baju sesuai dengan gaya bagaimana gaun Maulana dan menggunakannya (sunnah pakaian untuk kedua jenis kelamin). Maulana menyarankan kepada semua muridnya bahwa kita harus memakai topi, memakai Fez juga baik.

Wanita aurat. Jika mungkin, pria tidak harus campur bebas dengan wanita. Wanita harus duduk di tempat yang berbeda. Jangan biarkan mereka duduk bersama-sama. Jika memungkinkan, suami tidak boleh membiarkan wanita bekerja di luar. Suami harus membuat mereka tinggal di rumah mereka.

Dalam Suhbah masa lalu, Maulana menyebutkan bahwa wanita yang pergi bekerja tidak membantu dalam pendapatan keluarga, karena tidak ada barokah dalam pekerjaannya. Barokah hanya dari penghasilan suami, sudah cukup untuk menjaga mereka pergi. Hal ini sangat menyedihkan bahwa saat ini anak-anak tumbuh di tangan pembantu dan pusat penitipan anak, tidak di tangan ibu mereka.

*Untuk Kalangan Sendiri