Wednesday, June 29, 2016

Lailatul Qadr

Laylatul Qadr

Wahai Muslim!  Kabar gembira mengenai Laylatul Qadr!  Syuyukh kita telah mengatakan keapda kita bahwa barang siapa yang ingin menjumpai Laylatul Qadr--sebagian dapat melihatnya dan itu akan dituliskan bagi yang lain bahwa mereka telah melihatnya dan mereka akan diikutsertakan [bahkan jika malam itu telah lewat]--demi kecintaan terhadap Nabi Muhammad (saw), bacalah:
100 hingga 1000 kali Surat al-Ikhlash; 
100 hingga 1000 kali La ilaha illa-Llah;
100 hingga 1000 kali Shalawat ala 'n-Nabi ﷺ.
Tidak ada paksaan untuk membaca lebih dari 100 kali.  Insya Allah kita semua akan dikaruniai malam itu.

~Shaykh Hisham Kabbani 💕

Tuesday, June 28, 2016

Hizib Maghribi

Hizib Maghrobi dari Mas Arief semoga bermanfaat .......

ini berbeda dengan Hizib Maghrobi umumnya versi lain ...

ALLOHUMMA SUKMABAHUM FII SAYKAL ABUUN FARTOQID INNAHUM MURTAQIBUN
BALYAKHAN BALYAKHIN, BARNABAL BARNABIL, QUWWAH
MALKAN MALKIN, MAYAKAL MAYAKIL QUWWAH
JABALAL JABALIL KAF KAF QUWWAH
BARNAKIL BARNAKIL , BARNULUHUM BARNULUHUM QUWWAH
KUN BALYAKHAN KUN BALYAKHIN , KUN QUWWATA KUN QUWWATI

Friday, June 24, 2016

Doa nabi musa

Ini Do'a Ajibbb Bener, Do'a Nabi Musa Yang Diajarkan Baginda Nabi Kepada Para Sahabat

Doa yang diucapkan Nabi Musa AS ketika membawa bani israil melewati laut merah yang terbelah

ﺍَﻟَّﻠﻬُﻢَّ ﻟَﻚَ ﺍﻟْﺤَﻤْﺪُ ﻭَﺍِﻟَﻴْﻚَ ﺍﻟْﻤُﺸْﺘَﻜَﻰ ﻭَﺍَﻧْﺖَ ﺍﻟْﻤُﺴْﺘَﻌَﺎﻥُ ﻭَﻟَﺎ ﺣَﻮْﻝَ ﻭَﻟَﺎ ﻗُﻮَّﺓَ ﺍِﻟَّﺎ ﺑِﺎﻟﻠﻪِ ﺍْﻟﻌَﻠِﻲِّ ﺍﻟْﻌَﻈِﻴْﻢِ
[Allahumma lakal hamdu, wa ilaykal musytaka, wa antal musta'anu, walaa haula walaa quwwata illaa billahil azhiim]

Ya Allah segala puji bagi-Mu. Kepada Engkaulah aku mengadu dan hanya Engkau yang bisa memberi pertolongan. Tiada daya dan upaya, serta tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung.
_______________________

Dalam Al-mu'jam Al-ausath - Imam Thobroni

ﺣَﺪَّﺛَﻨَﺎ ﺟُﺒَﻴْﺮُ ﺑْﻦُ ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ ﺍﻟْﻮَﺍﺳِﻄِﻲُّ ، ﻗَﺎﻝَ : ﻧَﺎ ﺟَﻌْﻔَﺮُ ﺑْﻦُ ﺍﻟْﻔَﻀْﻞِ ﺍﻟْﻮَﺍﺳِﻄِﻲُّ ، ﻗَﺎﻝَ : ﻧَﺎ ﺯَﻛَﺮِﻳَّﺎ ﺑْﻦُ ﻓَﺮُّﻭﺥَ ﺍﻟﺘَّﻤَّﺎﺭُ ، ﻋَﻦْ ﻭَﻛِﻴﻊِ ﺑْﻦِ ﺍﻟْﺠَﺮَّﺍﺡِ ، ﻋَﻦِ ﺍﻷَﻋْﻤَﺶِ ، ﻋَﻦْ ﺷَﻘِﻴﻖِ ﺑْﻦِ ﺳَﻠَﻤَﺔَ ، ﻋَﻦْ ﻋَﺒْﺪِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺑْﻦِ ﻣَﺴْﻌُﻮﺩٍ ، ﻗَﺎﻝَ : ﻗَﺎﻝَ ﺭَﺳُﻮﻝُ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ : " ﺃَﻻ ﺃُﻋَﻠِّﻤُﻜُﻢُ ﺍﻟْﻜَﻠِﻤَﺎﺕِ ﺍﻟَّﺘِﻲ ﺗَﻜَﻠَّﻢَ ﺑِﻬَﺎ ﻣُﻮﺳَﻰ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﺍﻟﺴَّﻼﻡُ ﺣِﻴﻦَ ﺟَﺎﻭَﺯَ ﺍﻟْﺒَﺤْﺮَ ﺑِﺒَﻨِﻲ ﺇِﺳْﺮَﺍﺋِﻴﻞَ ؟ " ﻓَﻘُﻠْﻨَﺎ : ﺑَﻠَﻰ ، ﻳَﺎ ﺭَﺳُﻮﻝَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ، ﻗَﺎﻝَ : " ﻗُﻮﻟُﻮﺍ : ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﻟَﻚَ ﺍﻟْﺤَﻤْﺪُ ، ﻭَﺇِﻟَﻴْﻚَ ﺍﻟْﻤُﺸْﺘَﻜَﻰ ، ﻭَﺃَﻧْﺖَ ﺍﻟْﻤُﺴْﺘَﻌَﺎﻥُ ، ﻭَﻻ ﺣَﻮْﻝَ ﻭَﻻ ﻗُﻮَّﺓَ ﺇِﻻ ﺑِﺎﻟﻠَّﻪِ ﺍﻟْﻌَﻈِﻴﻢِ " ، ﻗَﺎﻝَ : ﻓَﻤَﺎ ﺗَﺮَﻛْﺘُﻬُﻦَّ ﻣُﻨْﺬُ ﺳَﻤِﻌْﺘُﻬُﻦَّ ﻣِﻦْ ﺷَﻘِﻴﻖٍ ، ﻭَﻗَﺎﻝَ ﺷَﻘِﻴﻖٌ : ﻣَﺎ ﺗَﺮَﻛْﺘُﻬُﻦَّ ﻣُﻨْﺬُ ﺳَﻤِﻌْﺘُﻬُﻦَّ ﻣِﻦْ ﻋَﺒْﺪِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ، ﻭَﻗَﺎﻝَ ﻋَﺒْﺪُ ﺍﻟﻠَّﻪِ : ﻣَﺎ ﺗَﺮَﻛْﺘُﻬُﻦَّ ﻣُﻨْﺬُ ﺳَﻤِﻌْﺘُﻬُﻦَّ ﻣِﻦْ ﺭَﺳُﻮﻝِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ
Abdullah bin Mas'ud berkata : Rosulullah SAW bersabda :"Maukah aku ajarkan kalian semua, beberapa kalimat (do'a) yang di ucapkan Nabi Musa As ketika melewati lautan dengan membawa bani isroil ?".
Maka kami berkata : " Iya ya Rosulallah ".
Rosulullah bersabda :" Ucapkanlah (ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﻟَﻚَ ﺍﻟْﺤَﻤْﺪُ ، ﻭَﺇِﻟَﻴْﻚَ ﺍﻟْﻤُﺸْﺘَﻜَﻰ ، ﻭَﺃَﻧْﺖَ ﺍﻟْﻤُﺴْﺘَﻌَﺎﻥُ ، ﻭَﻻ ﺣَﻮْﻝَ ﻭَﻻ ﻗُﻮَّﺓَ ﺇِﻻ ﺑِﺎﻟﻠَّﻪِ ﺍﻟْﻌَﻈِﻴﻢِ).

Al-a'masy berkata : Aku tidak pernah meninggalkan do'a ini (selalu aku baca) semenjak aku mendengarnya dari Syaqiq.

Syaqiq berkata : Aku tidak pernah meninggalkan do'a ini (selalu aku baca) semenjak aku mendengarnya dari Abdullah bin Mas'ud.

Abdullah bin Mas'ud berkata : Aku tidak pernah meninggalkan do'a ini (selalu aku baca) semenjak aku mendengarnya dari Rosulillah SAW.

semoga membawa manfaat dan berkah pada kita semua,amin

Iktikaf

Adab I'tikaf

Pada hari sebelum 10 hari terakhir di bulan Ramadan, pada waktu Ashar, berniatlah untuk melakukan I’tikaf atas nama diri sendiri, para leluhur, dan anak-anak kita. Mintalah dukungan kepada Rasulullah (s), Grandsyekh `Abdullah Daghestani (q), Mawlana Syekh Nazim al-Haqqani (q), dari Mawlana Syekh Hisyam Kabbani (q) dan para awliya.  Hadiahkan pahalanya (ihda) kepada Nabi (s), ahlul bait, para awliya, Grandsyekh, Mawlana Syekh Nazim (q), Mawlana Syekh Hisyam (q) dan kemudian orang-orang yang kalian inginkan.

Pengantar

I’tikaf di masa Nabi (s) dilakukan pada 10 hari terakhir, yang paling penting adalah memisahkan diri dari suami atau istri kalian.  Itu adalah hal utama dalam I’tikaf, yakni bahwa kalian tidak melakukan hubungan (suami-istri) pada saat kalian berada dalam I’tikaf.  Dan itulah sebabnya mereka biasanya pergi ke masjid karena tidak ada tempat lain untuk melakukannya di hadapan Nabi (s). Sekarang ini, orang-orang bisa juga melakukan I’tikaf di rumah.  Kalian dapat melakukannya di ruangan yang terpisah dari suami atau istri kalian. Itulah I’tikaf.  Kalian memutuskan untuk memasuki suatu latihan yang berat di mana kalian ingin selalu berada di Hadirat Ilahi, bukan di dunia.

I’tikaf adalah sebuah langkah sebelum khalwat, jadi ia melatih kita untuk mampu berada dalam khalwat selama 40 hari, kalian ingin berada di Hadirat Ilahi, itulah sasaran kalian.  Berada bersama Allah (swt) dan Nabi-Nya (s).

Syekh kalian akan memberikan beberapa awrad untuk dilakukan agar kalian dapat mencapai semacam pembersihan atau pengkilapan diri kalian yang membuat kalian mampu di masa depan, jika kalian terus melakukan itikaf, itu akan membuat kalian mampu meraih suatu pemahaman yang benar tentang khalwat.  I’tikaf sangat penting karena ia akan membawa kalian dalam perjalanan tersebut.

`Akafa dalam bahasa Arab berarti `akafa `ala shay adalah berpaling menuju ke arah itu atau ke sana, menuju sesuatu dan menjaganya tanpa perubahan, terus-menerus secara konstan (istiqamah) melakukannya.  Kalian mengatakan `aakiftu ākul ath-thamr, aku memutuskan untuk selalu memakan kurma. `Akafa adalah melakukan sesuatu terus-menerus, secara konstan dan non stop.

Jadi I’tikaf selama 10 hari adalah memutuskan untuk berpaling menuju Allah (swt) selama 10 hari ini dan menjauh dari segala hal yang mengganggu atau memutuskan segala hubungan dengan yang lain, selain dengan Hadirat Ilahi ini.

Jadi para Sahabat biasanya tinggal di dalam masjid, tetapi bila ada sesuatu yang penting yang mengharuskan mereka pulang ke rumah, mereka melakukannya, karena itu bukanlah khalwat sepenuhnya. Jika mereka ingin mandi, mereka pergi lalu kembali lagi. Yang paling penting adalah tidak berhubungan dengan istri atau istri dengan suami, hubungan antar suami istri.

Dalam I’tikaf, mereka boleh makan apa saja, tidak ada batasan. Dalam khalwat kalian hanya boleh memakan sejenis makanan, yaitu lentil.  Orang-orang dalam I’tikaf akan menyibukkan diri selama 10 hari terakhir dengan berbagai ibadah siang dan malam. Mereka harus memahami betul bagaimana melindungi diri mereka dari semua bisikan setan yang negatif di telinga mereka.

Pertama sedapat mungkin, mereka tidak berbicara dengan orang lain. Kalaupun mereka dapat bicara, sesuatu tentang Islam dibolehkan. Dalam I’tikaf, kalian boleh mendengarkan ceramah, mengajukan pertanyaan, mendengarkan hadis, tetapi itu harus ditujukan untuk tujuan non duniawi, tidak perlu bicara tentang pergi ke supermarket, atau, “Mainan apa yang akan kubelikan untuk anakku?” Yang menjadi fokus adalah Allah (swt) dan Nabi-Nya (s).

Kalian memulainya sebelum Maghrib, bagi wali Allah 24 jam dimulai pada saat Maghrib.

Jadi, jika kalian memutuskan untuk pergi, kalian pergi 2 jam sebelum Maghrib, ambil wudu dengan niat melakukan I’tikaf, lalu kalian masuk dan duduk di sana, dan mulai melakukan awrad yang diberikan kepada kalian, awrad normal yang diberikan kepada setiap orang adalah membaca satu hingga 3 juz Alquran sehari, jika mereka bisa membaca Alquran. Jika mereka tidak bisa membaca Alquran, mereka dapat membaca artinya. Lalu bacalah Dalail al-Khayrat setiap hari satu juz. Jika mereka tidak bisa membacanya, mereka dapat membaca shalawat Nabi (s) 100 kali sebagai pengganti Dalail al-Khayrat. Dan jika mereka tidak bisa membaca Alquran, mereka dapat membaca qul huwa Allahu ahad 100 kali dan 3 juz sama dengan 300 kali qul huw Allahu ahad.

Instruksi

Mulai pada hari pertama, ambillah wudu di zawiyah, lakukan adab tarekat, dilanjutkan dengan Salat Maghrib berjamaah, setelah itu lanjutkan membaca adab hingga Isya.

Niat:

Nawaytu ‘l-arba’in, nawaytu ‘l-`itikaf, nawaytu ‘l-khalwah, nawaytu ‘l-`uzlah, nawaytu ‘r-riyadhah, nawaytu ‘s-suluk, lillahi ta’ala fii haadzal-masjid (atau fii haadzal-jaami`)

Aku berniat 40 (hari mengasingkan diri), aku berniat untuk beritikaf, aku berniat khalwat, aku berniat mendisiplinkan (ego), aku berniat mengadakan perjalanan di jalan Allah (swt), demi Allah di masjid ini.

Zikir Harian:

Allah, Allah, 5.000 kali dalam hati (khafi), 5.000 kali bersuara (jahar); dibaca hingga 48.000 atau 74.000 kali.

Shalawat: Allaahumma shalli `alaa Muhammadin wa `alaa aali Muhammadin wa sallim, 2.500 hingga 24.000 kali.

La ilaha ill-Allah, 1.000 kali

Subhaanallah wa bihamdihi subhaanallah il-`Azhiim, astaghfirullah 100 kali.

Astaghfirullah al-`Azhiim wa atuubu ilayh, 100 kali.

Subuuhun qudduusun rabbunaa wa rabb ul-malaaikati war-ruh, 100 kali.

Bismillaahir rahmaanir rahiim, dzaalika taqdiirul-`aziiz il- `aliim, 100 kali.

Alhamdulillah, 100 kali.

Syukran lillaah, 100 kali.

Subhaanallaah, 100 kali.

Allaahu akbar, 100 kali.

Hasbunallah wa ni`mal wakiil, 100 kali.

La hawla wa la quwatta illa billahil `Aliyyil `Azhiim, 100 kali.

1 juz Alquran atau Surat al-Ikhlash 100 kali.

1 hizib (bab) Dalail al-Khayrat atau selawat 100 kali.

Dalam melakukan semua awrad berusahalah untuk bermeditasi merenungkan maknanya.

Prosedur Harian

Hari dimulai pada saat Maghrib. Ambillah wudu 2 jam sebelum Maghrib, lalu bacalah awrad sebelum matahari terbenam. Setelah Salat Maghrib berjamaah, lanjutkan pembacaan awrad harian hingga Isya, dan dilanjutkan kembali setelah Salat Isya.

Bangunlah sebelum Subuh, kira-kira pukul 2 dini hari, lalu lakukan Salat Wudu dan Salat Tahajjud. Sambil menunggu yang lain, bacalah laa ilaha ill-Allah 1.000 kali, Surat al-Ikhlash 1.000 kali, dan awrad lainnya seperti yang telah disebutkan di atas. Bagilah bacaan-bacaan itu dalam set yang terdiri dari 100.

Bila kalian selesai satu set, lanjutkan dengan set berikutnya.

Misalnya: lakukan zikir, laa ilaha ill-Allah 100 kali,

lalu al-Ikhlash 100 kali,

Subhaanallah wa bihamdihi subhaanallah il-`Azhiim, astaghfirullah 100 kali, Astaghfirullah al-`Azhiim wa atuubu ilayh 100 kali,

Subuuhun qudduusun rabbunaa wa rabb ul-malaaikati war-ruh 100 kali, Bismillaahir rahmaanir rahiim, dzaalika taqdiirul-`aziiz il- `aliim 100 kali,

Alhamdulillah 100 kali,

Syukran lillaah 100 kali,

Subhaanallaah 100 kali,

Allaahu akbar 100 kali,

Hasbunallah wa ni`mal wakiil 100 kali,

kemudian La hawla wa la quwatta illa billahil `Aliyyil `Azhiim 100 kali.

Lalu bila masih ada waktu, bacalah:

Ya Shamad, 500 kali

Astaghfirullah, 500 kali dengan niat bahwa sejak hari Allah (swt) menciptakan hingga kini Allah (swt) akan mengampuni kalian.

Astaghfirullah, 500 kali dengan niat bahwa sejak hari ini hingga Yawmil Hisab, Allah (swt) akan melindungi kalian.

Alhamdulillah, 500 kali bersyukur bahwa Allah (swt) telah menciptakan kalian sebagai Umat Nabi (s) dan membuat kalian menjadi murid Syekh Nazim (q).

Alhamdulillah, 500 kali bersyukur bahwa Allah (swt) tidak menciptakan kalian sebagai umat (nabi-nabi) yang lain.

Lalu jika kalian mempunyai waktu, lakukan awrad yang telah saya sebutkan, selalu hubungkan hati kalian dengan Mawlana Syekh Nazim (q), yang kita sebut rabitha dan muraqaba kepada Mawlana Syekh Nazim (q).  Rabitha dan muraqabah harus selalu ditujukan kepada Mawlana Syekh Nazim (q). Hari demi hari kalian akan menjumpai suatu pergumulan hebat dalam diri kalian, berusaha untuk membuat kalian pergi dan oleh karenanya akan sangat sulit bagi kalian untuk duduk.

Kalian dapat duduk di makam dan melakukannya di sana.

Bagi yang ingin melaksanakannya sebagian, ia dapat melakukannya mulai dari Ashar ke Maghrib, Maghrib ke Isya dan sejak dini hari hingga Subuh.

Bagi yang ingin melaksanakannya secara penuh, ia harus melakukannya selama 24 jam, dengan istirahat 5-6 jam.

Tunggu jemaah yang lainnya untuk melaksanakan Salat Najat, Syukur dan Tasbih.

Lalu lakukan Salat Subuh berjamaah, lengkap dengan awradnya dan lanjutkan dengan awrad masing-masing hingga Salat Isyraq.

Setelah Salat Isyraq, boleh beristirahat hingga pukul 10 atau lebih, lalu bangun untuk melaksanakan Salat Dhuha 8 rakaat.

Kemudian lanjutkan membaca awrad mulai dari 5.000, 5.000 Allah, Allah hingga 48.000 atau 74.000, shalawat 2.500 kali dan seterusnya.

Peraturan

Tidak ada pantangan untuk makanan, apa saja boleh.  Makan sahur dan buka puasa dilakukan bersama-sama.

Semua salat harian dilakukan secara berjamaah, yang dilakukan sendiri-sendiri adalah ketika mereka menyelesaikan seluruh salat, mereka lalu melakukan semua adab zikir, membaca Alquran dan Dalail Khayrat masing-masing. Setelah menyelesaikan semua awrad, mereka boleh melanjutkannya dengan awrad apa saja yang ada dalam Guidebook (Buku Panduan) Tarekat Naqsybandi.

Yang terpenting adalah tidak boleh melakukan hubungan suami-istri.

Sumber:

http://naqshbandi.org/adab/itikaf%20instructions.pdf

Wednesday, June 22, 2016

Dua fi shahruramdhan

Allaahummaj'alnaa wa waalidina wa masyaayikhinaa wa mu'allimiinaa wa waalidiihim wa haadiriinaa wa jamii'ilmuslimiina min 'ibaadika s sholihiina l muflihiina l munjihiina l faa-iziina l baa-rriina l naa-'imiina l faarihiina l masruuriina l mstabsiriina l muth-ma-inniina l aamiina l ladziina laa khawfun 'alaihim wa laa hum yhzanuuna birohmatika yaa arhamar roohimiin shodaqollaahu l 'adhziim wa ballagho rosuuluhu n nabiyyul wafiyyul kariim wa nahnu 'alaa maa qoola robbunaa wa sayyidunaa wa mawlaanaa wa khooliquna wa rooziqunaa wa waaritsuna wa baa-'itsunaa wa nashiirunaa wa man ilaihi mashiiruna wa waluyyun ni'mati 'alainaa mina s syaahidiina wa lahuu munadz dzaakiriin walhamdu lillaahi robbil 'aalamiina wa 'aaqibatu lilmuttaqiina wa laa 'udwaana illaa 'aladzh dzhoolimiina, wa shollallaahu 'alaa sayyidinaa muhammadin khootimin nabiyyiina wa 'alaa aalihit thoyyibiinat thohiriina wa 'alaa ash haabihil muntakhobiina !wa 'alaa jamii'il makaa-ikati wan nabiyyiina wal mursaliina inna robbanaa hamiidum majiid...

Sunday, June 12, 2016

remove all problem


WAZIFA OF GRANDSHAYKH ABDALLAH AL-FA'IZ AD-DAGHESTANI TO REMOVE ALL PROBLEMS
Shaykh Hisham Kabbani 11 June 2016  Sufilive.com
From Grandshaykh's personal notes
.
READ:
3  times #Shahadah
70 times Astaghfirullah
3  times Surat al-Ikhlaas
10 times Laa ilaaha illa-Llah
10 times salawat: "Allahumma salli 'ala Muhammadin wa 'ala ali Muhammadin wa sallim."
Immediately send as a trust to #Rasulullah ﷺ: "Awda'na hadha ad-dhikr 'indaka ya Sayyidi ya Rasulullah ﷺ wa hiya lana wadee'atan ya man arsalahu Allah Rahmatan lil-Alameen."
300 times Astaghfirullah
.
#Grandshaykh ق said reading this on a sick person will clear them and if you recite it on yourself before sleeping Allah ﷻ will send ru'ya saliha and you will be in His Care that night and your soul will be in sajda under the `Arsh Ar-Rahman. The Sahaba read these awrad in different ways. High-level #Awliyaullah never stopped it in their whole life.
.
Reading this daily will prepare you to be in the presence of the 124,000 Awliyaullah when you sleep that night and if you read this every night you will get differents rewards from them! #Allah ﷻ will grant from His Endless Rewards whomever keeps this awrad!
.
Grandshaykh ق said if someone falls into a problem, wa law `abada `ibadata'th-thaqalayn, that even if he prays the prayers of Jinn and Men it will not take him out of it except by reading this awrad including 300 #astaghfirullah, then he will be pulled out of that difficulty.

May Allahﷻ dress us with the rewards of all these awrad even if we did not do them, but our intention is to do them! Wa min Allahi 't-tawfeeq bi hurmati 'l-Fatihah.

Wednesday, May 4, 2016

Adab suluk

PETUNJUK TEKNIS SULUK

4-7 Mei 2016/26-29 Rajab 1437

Latar Belakang

Berikut ini adalah kutipan shuhba Mawlana Syekh Hisyam Kabbani kepada para perwakilan zawiyah seluruh Indonesia dalam sebuah pertemuan yang diadakan di Tomang pada tanggal 1 September 2007.  Di dalamnya Mawlana memberikan arahan mengenai teknis khalwat yang akan dilaksanakan bagi mereka.  Arahan ini pula yang akan kita gunakan untuk pelaksanaan suluk pada tanggal 4-7 Mei 2016.  

Mawlana Syekh Hisyam bertanya apakah mereka bersedia menanggung beban dari jamaah zikir yang dipimpinnya.  Mereka menjawab ya.  Mawlana berkata bahwa memimpin zikir bukanlah hal yang mudah, seorang Imam zikir harus bisa bersikap lebih rendah hati daripada orang-orang yang dipimpinnya. Beliau kemudian melanjutkan bicaranya.

Seseorang Imam zikir bukanlah seorang khalifah, mereka hanya mendapat izin untuk membawakan zikir saja.  Mereka ibarat pipa saluran sambungan atau lebih tepat seperti gerbong kereta tanpa lokomotif, mereka tidak bisa membawa para penumpang ke mana pun, sedangkan lokomotif atau mesinnya adalah Mawlana Syekh Nazim (q).  Seorang Imam zikir tidak mempunyai fungsi apa-apa tanpa Mawlana Syekh Nazim (q).

Irsyad atau bimbingan adalah bukan perkara yang mudah, Imam zikir hanya diberi wewenang untuk memimpin zikir, untuk membuat orang-orang bahagia. Kalian tidak diizinkan untuk memberikan shuhba namun kalian boleh membacakan shuhba dari Mawlana Syekh dan jangan lupa untuk mengucapkan, “Madad ya Sayyidi, Madad ya Sulthanul Awliya,“ ketika akan membaca shuhba; agar kalian dapat memperoleh suatu pengertian dengan menghubungkan diri kepada Mawlana Syekh.

Untuk orang-orang yang telah dibaiat sebagai Imam zikir tadi, kalian akan menjalani 10 hari khalwat di bulan Zulhijjah sejak tanggal 1 hingga 10 di Zawiyah Cikreteg.  Sedangkan untuk Doktor Abdul Wahid akan menjalani khalwat selama 45 hari sejak bulan Zulqaidah.

Untuk Awradnya, kalian dapat memintanya dari Syekh Mustafa sebagaimana awrad yang dahulu pernah diberikan.  Kalian diizinkan untuk saling berkomunikasi dengan tulisan, tidak diperkenankan berbicara satu sama lain, tidak juga diperkenankan menggunakan sms atau handphone.  Jamhuri dan Barkah sebelumnya juga pernah khalwat.  Kalian juga bisa meminta awrad tersebut kepada mereka berdua.

Dengan khalwat tersebut mudah-mudahan akan dapat diperbaiki akhlak semuanya.

Pak Sunarto akan menyediakan keperluan makan selama khalwat, yaitu pada pagi dan sore, berupa sup.  “Apakah Sunarto bersedia?”  “Ya, Mawlana.”

Salat harus dilakukan secara berjamaah, setelah itu waktu dihabiskan dengan menjalankan awrad masing-masing dan membaca Alquran.

Waktu dan Tempat

Suluk akan dilakukan selama 4 hari, mulai Ashar hari Rabu, 4 Mei 2016/26 Rajab 1437 hingga waktu dhuha (sekitar pkl.09.WIB) hari Sabtu, 7 Mei 2016 di Zawiyah Cikereteg, Bogor, Jawa Barat.  Setelah selesai acara akan dilanjutkan dengan ziarah ke daerah Pancawati, Bogor dan diperkirakan selesai sekitar Zhuhur.   

Keberangkatan

Para peserta akan diberangkatkan dengan sebuah bus dari Sekretariat Nazimiyyah Indonesia, Jl, Warung Jati Barat Raya No.9C, Rt.012/09 Kalibata, Pancoran, Jakarta Selatan (diapit SPBU Total dan Polsek Pancoran) pada hari Rabu, tanggal 4 Mei 2016, pukul 09.00 WIB.

Peserta

Peserta adalah jemaah Naqsybandi Nazimiyyah dari berbagai daerah di Indonesia yang telah mendaftar kepada panitia.

Perlengkapan

Setiap peserta diharapkan membawa perlengkapan untuk suluk di antaranya: perlengkapan MCK, perlengkapan salat, kitab suci Alquran, kitab Dalail Khayrat, weker, kerudung putih yang tipis, senter dan alat tulis.

Adab Suluk (terlampir)

Khadim

Panitia akan melayani keperluan salik dalam hal menyediakan makanan dan minuman dan obat-obatan ringan yang diperlukan.  Komunikasi dengan panitia hanya boleh dilakukan secara tertulis.

Penutup

Demikianlah petunjuk teknis suluk ini dibuat.  Hal-hal yang belum jelas dapat ditanyakan kepada panita sebelum suluk dimulai.

Bismillahi ‘r-rahmani ‘r-rahim

ADAB SULUK

oleh Syekh Mustafa Mas’ud al-Haqqani

KETENTUAN  UMUM  DALAM  SULUK   

Pada hari Rabu, 4 Mei 2016 pada waktu Ashar, diniatkan dengan sepenuh hati dan dengan penuh greget untuk menjalani suluk bagi diri sendiri (tetapi juga dengan menyertakan dalam hati segenap keluarga dan anak-anak), supanya Allah (swt) berkenan mempertemukan semuanya dengan Rasulullah (saw), Imam Mahdi (a), dan Mawlana Syekh (q).  Sepanjang waktu suluk demikian untuk seterusnya.

Memohon dukungan Rasulullah (q), dukungan Mawlana Syekh Syarafuddin ad-Daghestani (q), Mawlana Syekh Abdullah Faiz ad-Daghestani (q), Mawlana Syekh Nazim al-Haqqani (q), Mawlana Syekh Hisyam Kabbani (q), dan seluruh awliya, begitu juga para wali abdal, bahkan setiap jin yang ada di sekitar lembah agar ikut mendukung/tidak mengganggu “Perjalanan hidup dan mati kita” ke arah senantiasa bersesuaian dengan tuntunan Rasulullah (saw) untuk menggapai dan menuju rida Allah (swt) bersama Rasulullah (saw).

Seluruh minat, perhatian, pikiran, ingatan dan kesadaran dikonsentrasikan ke dalam zikir dan fokus pertalian diri dengan para penuntun itu secara kontinu, hindari “dunia” sepanjang waktu suluk, dunia kita ceraikan untuk sementara untuk kelak kembali ke sana dengan hati dan pemikiran yang lebih tercerahkan.  Hindari lamunan, sensasi, cita rasa-kebendaan, nafsu, maupun percakapan dengan sesama serta aneka hal yang dapat mematahkan kontinuitas suluk, mengganggu konsentrasi/tawajjuh seperti sedang diupayakan selama periode suluk yang diambil.  Berserah dirilah kepada Allah (swt) dan mengandalkan taufiq, inayah, serta pertolongan dan tuntunan Allah (swt) agar dapat melaksanakan suluk sepenuhnya.  Dan dengan bersungguh-sungguh lalu lakukan “Mandi Suluk” mulai tidak bercakap-cakap dan kemudian menerapkan adab/amalan suluk yang ada.

Suluk dijalani dengan sepenuh usaha dan upaya untuk menegakkan kontinuitas dengan tidak membiarkan adanya waktu kosong dan sia-sia.  Salat dilakukan secara berjamaah utuh seperti petunjuk amalan harian yang ada, sejak Ashar-Maghrib-Isya pada hari itu, dst hingga akhir suluk.  

Setiap hari bangun 3 jam sebelum Fajar (pukul 02.00WIB dini hari) untuk mandi dan salat malam/Salat Najat dst secara berjamaah, demikian juga saat Khatm Khwajagan juga membaca Burdah dengan berjamaah.  Hanya porsi zikir harian, membaca Alquran, Dalail al-Khayrat, Hizbul A’zham, Hizbul Wiqayyah yang dilaksanakan sendiri-sendiri.

Hindari memandang yang tidak perlu, kepala berkerudung dan sorot-mata mendunduk terus, hanya memandang dunia esoterik dan kehidupan setelah mati.  Hindari percakapan.  Tetapi jika sangat memerlukan komunikasi yang tak terelakkan dengan sesama boleh menuliskan urgensinya tetapi tidak membicarakannya karena hal itu dapat memutus tawajjuh dalam hati.  Tidak perlu memberi nasihat, nasihatilah diri sendiri agar bisa tahannuts sepenuhnya (membaguskan kehidupan di dunia mikro sendiri, dalam kesadaran hati).

Setiap hari boleh menikmati semangkuk sup lentil (atau sup kacang merah) dan 2 sendok nasi antara jam 10-11 pagi, begitu juga sebelum Maghrib.  Setiap hari boleh memakan 7 butir kurma, bebas menikmati teh atau air putih sepanjang hari.  Pada hari terakhir boleh memasak daging, ayam atau ikan; supaya mensyukuri kenikmatan jasadi untuk semakin menghidupkan kesyukuran rohani.

RABU, 4 MEI 2016

Menjelang Ashar: Niat untuk melakukan Suluk

Mandi/ghusl  

Salat Ashar berjamaah

kembali ke bilik masing-masing, lalu lakukan:

ZIKIR HARIAN

1.      Allah, Allah (48.000 kali)

2.      Allahumma shalli ‘ala Muhammadin wa ‘ala aali Muhammadin wa sallim (2.500 s/d 24.000 kali)

3.      Subhanallah wa bihamdihi, subhanallahil azhim, astaghfirullah (100 kali)  

4.      Astagfirullahal azhim wa atuubu ilayh (100 kali)

5.      Subbuhun quddusun Rabbuna wa rabbul malaa-ikati war-ruh (100 kali)

6.      Bismillahir rahmaanir rahiim, Dzalika taqdirul ‘azizil ‘aliim (100 kali)

7.      Hasbunallah wa ni’mal wakiil (100 kali)

8.      La hawla wala quwwata illa billahil ‘aliyyil azhiim (100 kali)

9.      Alhamdulillah ‘ala ni’matil Islam wa syarafil Iman (100 kali)

10.  Asyukrulillah (100 kali)

11.  Subhanallah (100 kali)

12.  Allahu akbar (100 kali)

13.  Ya Waduud (700 kali)

14.  Astaghfirullah (700 kali)

15.  Al-Ikhlash (1000 kali)

16.  La ilaha ill-Allah (1000 kali)

17.  Alquran (1 s/d 7 Juz)

18.  Dalail Khayrat (1 Hizib/1 Juz Alquran)

19.  Hizbul A’zham (1 Hizib Harian)

Salat Maghrib

Salat Isya

Adab Laylatul Isra wal Mi’raj

Doa Agung dari Sulthan al-Awliyaa (ad-Du`a ul-Maatsuur)

Khatm Khwajagan

Mawlid

Salat Tasbih

Salat Syukur dengan Doa Qunut

Ihda

Doa dan al-Fatihah

Kembali ke bilik masing-masing untuk meneruskan awrad harian atau istirahat

KAMIS, 5 MEI 2016

PROSEDUR SEJAK DINI HARI

Bangun pukul 2.00WIB dini hari

Mandi

Niat: Nawaitul arbain, nawaitur riyadhah, nawaitul khalwah, nawaitul uzlah, nawaitus suluk, nawaitul I’tikaf, nawaitut tadabbur, nawaitus shaum fi hadzihiz zawiyah al-mubarakah lillahi ta’ala.

Shalat Syukril Wudu

Setelah salam kemudian berdiri, dan membaca

100X YA HALIM  (untuk melembutkan hati)

100X YA HAFIZH (untuk menentramkan hati dalam genggaman Allah)

Bayangkan diri Anda berada di Rawdhah dekat makam Rasulullah (saw), kemudian ucapkan: ALLAHUMMA SHALLI ‘ALA MUHAMMADIN WA’ALA ALI MUHAMMADIN WA SALLIM 100X

Niatkan agar Allah mempertautkan/mempertemukan kita dengan Rasulullah (saw), Imam Mahdi (as), dan Mawlana Syekh (q).

Lakukan prosesi berdoa/munajat/tawajjuh sebagai berikut:

(i) Ya Rabbal’izzati wal Azhamati wal Jabaruut

(ii) Bergerak 3 langkah ke depan diawali dengan kaki kanan sambil berdoa:

Ya Rabbi aku melangkah ke Hadirat-Mu untuk meraih maqam fana dalam Diri-Mu, lenyapkanlah diriku ini Ya Rabbi agar aku melebur dalam DIRI-MU, aku bergerak menuju Samudra Keesaan WAHDANIYAH-MU, jangan Engkau campakkan diriku ini sehingga kucapai kesendirianku bersama-Mu di maqam fardaniku.  Ya Rabbi seluruh hidupku telah kuhabiskan dalam kekafiran, syirik, dan berperilaku buruk, rasanya tidak ada amalanku yang pantas Engkau terima, tetapi Engkau Adalah Allah (swt) Yang tidak akan mengusir orang yang datang ke Pintu-Mu; lagi pula tak ada orang yang datang ke depan Pintu-Mu  melainkan dengan Pertolongan dan Rahmat-Mu jua.

Ya Rabbi, aku datang kepada-Mu dengan keburukan dan kesalahanku, kini aku ingin memaklumkan Islamku bagaikan baru masuk Islam, aku serahkan segalanya ke dalam Genggaman-Mu, kehidupanku-kematianku, kehidupanku di alam baka nanti, kiamatku, seluruh hartaku kuserahkan hanya kepada-Mu dan Engkaulah Yang Mengawasiku.

Ya Rabbi, aku tidak memiliki apapun selain ego dan jiwaku, aku tak dapat mendatangkan kebaikan atau keburukan kepada diriku sendiri, tidak juga hidup ataupun kematian pada diriku ini, semuanya telah kuserahkan kepada-Mu, seluruh penilain-Mu terhadapku, dan semua pertanyaan-Mu padaku, serta seluruh jawabanku telah kuserahkan kepada-Mu. Leherku ada di genggaman-Mu, aku tidak berdaya dalam menjawab pertanyaan-Mu bahkan jawaban yang terkecil pun aku tak mampu menjawabnya.  Dengan segala kelemahan dan ketidakberdayaanku inilah aku datang ke pintu-Mu.

Ya Rabbi, jika Engkau mempunyai 2 pintu bagi hamba-Mu untuk memasukinya, 1 untuk semua hamba-Mu yang beriman dan 1-nya lagi untuk hamba-Mu yang kafir; aku masuk melalui pintu yang kedua dan itulah pintu yang pantas untukku.  Aku nyatakan pada-Mu bahwa aku harus memperbarui iman dan syahadat serta amalanku; dan syahadat inilah yang menjadi amalan pertamaku sesudah kuserahkan diriku pada-Mu.  Engkaulah Yang menjadi Wakil bagiku.

YA WAKIL, Hasbunallah wa Ni’mal Wakil, wala hawla wala quwwata illa billahil ‘aliyyil azhim  

Asyhadu anlaa ilaaha illallah wa-asyhadu anna Muhammadan ‘Abduhu wa Rasuuluh (3X sambil mengacungkan jari telunjuk).

Ya Rabbi, sebagaimana Mawlana Syekh Abdullah Faiz ad-Daghestani (q) dan Syekhku, Mawlana Syekh Nazhim al-Haqqani (q) melakukan khalwat saat ini, maka apapun niat yang beliau miliki maka Ya Allah jadikanlah aku menyatu dengan niat beliau-beliau itu, dan dengan itulah aku datang ke depan pintu-Mu Ya Allah.

Ya Rabbi, aku masuk dan bergerak ke dalam Samudra berkah-Mu; di bulan-Mu yang penuh pujian.  Ya Rabbi janganlah Engkau menolakku dari Pintu-Mu, dan janganlah Engkau meninggalkan diriku kepada egoku walau sekejap, dan aku mohon ampunan…

Dengan mengucapkan  (Astaghfirullahal Azhim  70X )

Kemudian duduk kembali

Tutupi diri dengan kain putih yang tipis, dan buat penerangan yang redup dengan cahaya lilin.

Fatiha – (dengan abstraksi makna seperti tajalli yang turun di Mekah).

Amanar Rasulu bima unzila ilayhi min rabbihi wal mu’minun

Al-Insyirah 7X

Al-Ikhlash 11X

Al-Falaq

An-Nas

La ilaaha illallah 10X

Shalawat 10X

Ihda: Ila Syarafin Nabiyyi wa aalihi washahbihil kiram, wa ilaa Masya-ikhina fith Thariqatin Naqsybandiyyatil Aliyah, khassatan ila ruhi imamith thariqah wa ghawtsil khaliqah Syah Bahauddin Naqsyband Muhammadinil Uwaysil Bukhari, wa ila Mawlana Sulthanil Awliya Syaikh Abdullah Faiz Ad-Daghistani wa Syaikhina Sulthanil Awliya Mawlana Syaikh Muhammad Nazim al-Haqqani

Fatiha - (dengan abstraksi makna seperti menjadi tajalli di Madinah).

Ya Allah 5000X (dalam hati)

Ya Allah 5000X (dengan suara).

Shalatun Najat

Shalat Syukur

Shalat Tasabih

Shalatut Tahajjud

Shalawat  1000X

Al-Ikhlash 100X  (dengan niat mengganti 1 juz Al-Quran)

Shalawat 100X  (dengan niat mengganti Dalail-Khairat)

Ya Shamad 500X (niat menekan ego ke limit terendah)

Astaghfirullah 500X  (dengan niat untuk dosa/kelalaian kita sejak diciptakan diri kita sampai hari ini Allah akan mengampuni dosa-dosa kita)

Astaghfirullah 500X  (diniatkan sejak saat ini sehingga hari terakhir di bumi Allah akan melindungi kita dari dosa)

Alhamdulillah  500X  (sebab Allah tidak menciptakan kita sebagai ummat nabi lain).

Alhamdulillah  500X  (sebab Allah telah menciptakan kita sebagai ummat Nabi Muhammad (saw), dan mendapat kehormatan dari Sayyidina Abu Bakr Ash Shiddiq (r), Mawlana Abdul Khaliq Al-Ghujduwani (q), Syaikh Sayyid Syarafuddin Ad-Daghestani (q), Syaikh Abdullah Faiz Ad-Daghestani (q), dan kehormatan menjadi pengikut Mawlana Syaikh Muhammad Nazim Al-Haqqani (q).

Salat Subuh

Salat Isyraq

kembali ke bilik masing-masing untuk melakukan awrad harian

Salat Dhuha

Burdah

Salat Zhuhur

Salat Ashar

Salat Maghrib

Salat Isya

Zikir Khatm Khawjagan dan Mawlid malam Jumat

Kembali ke bilik masing-masing untuk meneruskan awrad harian atau istirahat

JUMAT, 6 MEI 2016

Lakukan prosedur sejak dini hari hingga Isyraq, dan Dhuha

Salat Jumat berjamaah

Salat Ashar

Salat Maghrib

Salat Isya

Zikir Khatm Khawjagan dan Mawlid malam Jumat

SABTU, 7 MEI 2016

Lakukan prosedur sejak dini hari hingga Isyraq, dan Dhuha

Suluk selesai diakhiri dengan sarapan bersama sebagai tanda syukur kepada Allah

Ziarah dan kembali ke Jakarta


Doa Agung Sulthan al-Awliya

Sulthan al-Awliya Mawlana Syekh `Abdullah Faiz ad-Daghestani (q)

(ad-du`aa ul-maatsuur li Sulthan al-Awliyaa)

Bismillaahir Rahmaanir Rahiim

Allaahumma shalli `alaa Muhammadin an-Nabii il-mukhtaar `adada man shalla `alayhi minal-akhyaar, wa `adada man lam yushalli `alayhi minal-ashraar, wa `adada qatharaatil amthaar, wa `adada amwaajil bihaar, wa `adadar rimaali wal qifaar, wa `adada awraaqil asyjaar, wa `adada anfaasil mustaghfiriina bil ashaar, wa `adada akmaamil atsmaar, wa `adada maa kaana wa maa yakuunu ila yawmilhasyri wal qaraar, wa shalli `alayhi maa ta`aaqabul laylu wan-nahaaru, wa shalli `alayhi maakhtalaful malawaan wa ta`aaqabul `ashraan wa karraral jadiidaan wastaqbalal farqadaan, wa balligh ruuhahu wa arwaahi ahli baytihi minnaa tahiyyatan wattasliim wa `alaa jamii`il anbiiyaa-i wal mursaliin wal-hamdu lillaahi Rabbil `alamiin.

Allaahumma shalli `alaa Muhammad wa `alaa aali Muhammadin bi `adadi kulli dzarratin alfa alfa marrah. Allaahumma shalli `alaa Muhammadin wa `alaa aali Muhammadin wa shahbihi wa sallim. Subbuuhun qudduusun Rabbunaa wa Rabbul malaa-ikati war-Ruuh, Rabbighfir warham wa tajaawaz `amma ta`lamu innaka Antal A`azzul Akram.

Bismillaahir Rahmaanir Rahiim

Allaahumma innii astaghfiruka min kulli maa tubtu `anhu ilayka tsumma `udtu fiih, wa astaghfiruka min kulli maa 'aradtu bihi wajhaka fakhaalithnii fiihi maa laysa fiihi ridhaa-uka, wa astaghfiruka linni`ami allatii taqawwaytu bihaa `alaa ma` shiyatik, wa astaghfiruka minadzdzunuubi allatii laa ya`lamuha ghayruka wa laa yaththali`u 'alayhaa ahadun siwaaka, wa laa tasa`uhaa illaa rahmataka wa laa tunjii minhaa illa maghfiratik wa hilmuka, laa ilaaha illa-Anta, subhaanaka innii kuntu minazh-zhaalimiin.

Allaahumma innii astaghfiruka min kulli zhulmin zhalamtu bihi `ibadaka, Fa ayyumaa `abdun min `ibaadika aw `amatin min `imaa-ika zhalamtu fii badanihi aw `irdhihi aw-maalihi fa-a`thihi min khazaa'inik allatii laa tanqush, wa as-aluka an tukrimanii bi-rahmatika allatii wasi`at kulla syay-in wa laa tuhiinanii bi`adzaa bika, wa tu’thiiyanii maa as-aluka fa-innii haqiiqun bi-rahmatika yaa arhamar-Raahimiin, wa shalla-Allahu `alaa Sayyidinaa Muhammadin wa aalihi wa shahbihi ajma`iin, wa laa hawla wa laa quwwatta illa billahil-`Aliyyil-`Azhiim.

Bismilaahir Rahmaanir Rahiim

Bismillaahin-Nuur, nuurun `alaa nuur, alhamdulillaahil-ladzii khalaqas-samaawaati wal ardhi wa ja`alazh-zhulumaati wan-nuur wa anzala at-tawraata `alaa jabalith-Thuuri fii kitaabin masthuur. Walhamdulillaahil-ladzii huuwa bil-Ghanii madzkuur.Wa bil-`izzi wal-Jalaal masy-hur, wal-hamdulillaahil-ladzii khalaqas-samaawaati wal ardhi wa ja`alazh-zhulumaati wan-nuur tsummal-ladziina kafaruu bi-rabbihim ya`diluun. Kaaf, Haa, Yaa, `Ayn, Shaad, Haa, Miim, `Ayn, Siin, Qaaf. Iyyaaka na`budu wa iyyaaka nasta`iin. Yaa Hayyu Yaa Qayyuum. Allaahu lathiifun bi `ibaadihi yarzuqu man yasyaa-u wa Huuwal-Qawiyyul-`Aziiz. Yaa Kaafii kulla syay-in ikfinii wash-rif`anii kulla syay-in innaka `alaa kulli syay-in Qadiir.

Allaahumma ya Katsiran-nawaali wa yaa Daa-imal-wishaali wa yaa Husnal fi`aali wa yaa Raaziqal `ibaadi `alaa kulli haal.

Allaahumma in dakhalasy-syakku fii iimaanii bika wa lam a`lam bihi tubtu`anhu wa aquulu laa ilaaha ill-Allaah Muhammadur-Rasulullaah (s).

Allaahumma in dakhalasy-syakka wal kufri fii tawhiidii iyyaka wa lam a`lam bihi tubtu`anhu wa aquulu laa ilaaha ill-Allaah Muhammadur-Rasulullaah (s)

Allaahumma in dakhalasy-syubhata fii ma`rifatii iyyaka wa lam a`lam bihi tubtu`anhu wa aquulu laa ilaaha ill-Allaah Muhammadur-Rasulullaah (s)

Allaahumma in dakhalal-`ujubu war-riyaa’ wal-kibriiyaa’ wa sum`atu fii `ilmii wa lam a`lam bihi tubtu`anhu wa aquulu laa ilaaha ill-Allaah Muhammadur-Rasulullaah (s)

Allaahumma in jaral-kadzibu `alaa lisaanii wa lam a`lam bihi tubtu`anhu wa aquulu laa ilaaha ill-Allaah Muhammadur-Rasulullaah (s)

Allaahumma in dakhalan-nifaaq fii qalbii minadz-dzunuubish shaghaa-iri wal kabaa-iri wa lam a`lam bihi tubtu`anhu wa aquulu laa ilaaha ill-Allaah Muhammadur-Rasulullaah (s)

Allaahumma maa asdayta ilayya min khayrin wa lam asy-kuruka wa lam a`lam bihi tubtu`anhu wa aquulu laa ilaaha ill-Allaah Muhammadur-Rasulullaah (s)

Allaahumma maa qadarta lii min amrin wa lam ardhaahu wa lam a`lam bihi tubtu`anhu wa aquulu laa ilaaha ill-Allaah Muhammadur-Rasulullaah (s)

Allaahumma maa an`amta `alayya min ni`matin fa `ashaytuka wa ghafaltu `an syukrika wa lam a`lam bihi tubtu`anhu wa aquulu laa ilaaha ill-Allaah Muhammadur-Rasulullaah (s)

Allaahumma maa mananta bihi `alayya min khayrin fa lam ahmaduka `alayhi wa lam a`lam bihi tubtu`anhu wa aquulu laa ilaaha ill-Allaah Muhammadur-Rasulullaah (s)

Allaahumma maa dhayya`tu min `umrii wa lam tardha bihi tubtu`anhu wa aquulu laa ilaaha ill-Allaah Muhammadur-Rasulullaah (s)

Allaahumma bimaa awjabta `alayya minan-nazhaari fii mash-nuu`aatika fa-ghafaltu `anhu wa lam a`lam bihi tubtu`anhu wa aquulu laa ilaaha ill-Allaah Muhammadur-Rasulullaah (s)

Allaahumma maa qashartu `anhu aamaalii fii rajaa-ika wa lam a`lam bihi tubtu`anhu wa aquulu laa ilaaha ill-Allaah Muhammadur-Rasulullaah (s)

Allaahumma ma`tamadtu `alaa ahadin siwaaka fiisy-syadaa-idi wa lam a`lam bihi tubtu`anhu wa aquulu laa ilaaha ill-Allaah Muhammadur-Rasulullaah (s)

Allaahumma maa astana`tu bi-ghayrika fisysyadaa-idi wan-nawaa-ibi wa lam a`lam bihi tubtu`anhu wa aquulu laa ilaaha ill-Allaah Muhammadur-Rasulullaah (s)

Allaahumma in zalla lisaanii bissu-aali li-ghayrika wa lam a`lam bihi tubtu`anhu wa aquulu laa ilaaha ill-Allaah Muhammadur-Rasulullaah (s)

Allaahumma maa shaluha min sya’nii bi-fadhlika faraa-iytuhu min-ghayrika wa lam a`lam bihi tubtu`anhu wa aquulu laa ilaaha ill-Allaah Muhammadur-Rasulullaah (s)

Allaahumma bi-haqqi laa ilaaha ill-Allaah wa bi-`izzatih

Wa bi-haqqil arsy wa `azhamatih

Wa bi-haqqil kursi wa sa `atih

Wa bi-haqqil qalami wa jariyatih

Wa bi-haqqil lawhi wa hafazhatih

Wa bi-haqqil miizaani wa khifatih

Wa bi-haqqish shiraathi wa riqqatih

Wa bi-haqqi Jibriil wa amaanatih

Wa bi-haqqi ridhwaan wa jannatih

Wa bi-haqqi Maalik wa zabaaniiyatih

Wa bi-haqqi Miikaa-iil wa syafaqatih

Wa bi-haqqi Israafiil wa nafkhatih

Wa bi-haqqi `Azraa-iil wa qabdhatih

Wa bi-haqqi Aadam wa shafwatih

Wa bi-haqqi Syu`ayb wa nubuuwwatih

Wa bi-haqqi Nuuh wa safiinatih

Wa bi-haqqi Ibraahiim wa khullatih

Wa bi-haqqi Ishaaq wa diyaanatih

Wa bi-haqqi Ismaa`iil wa fidyatih

Wa bi-haqqi Yuusuf wa ghurbatih

Wa bi-haqqi Muusa wa aayaatih

Wa bi-haqqi Haaruun wa hurmatih

Wa bi-haqqi Huud wa haybatih

Wa bi-haqqi Shaalih wa naaqatih

Wa bi-haqqi Luth wa jiiratih

Wa bi-haqqi Yuunus wa da`watih

Wa bi-haqqi Danyaal wa karaamatih

Wa bi-haqqi Zakariyaa wa thahaaratih

Wa bi-haqqi `Iisa wa siyaahatih

Wa bi-haqqi Sayyidinaa Muhammadin wa syafaa`atih

An taghfirlanaa wali waalidaynaa wali `ulamaa-inaa wa an ta’khudza bi-yadii wa tu`thiiyanii su-aalii wa tubalighanii aamaalii wa an tashrifa `anii kulla man `aadaanii bi-rahmatika yaa arhamar-raahimiin wa tahfazhnii min kulli suu-in, laa ilaaha illa Anta, subhaanaka inni kuntu minazh-zhaalimiin

Yaa Hayyu, yaa Qayyuum laa ilaha illa Anta, yaa Allaah, astaghfiruka wa atuubu ilayk/fastajabnaa lahu wa najaynaahu minal ghamm wa kadzaalika nanjiyul mu’miniin/wa hasbunallaahu wa ni`mal wakiil hasbii Allaahu laa ilaaha illa huwa `alayhi tawakkaltu wa Huwa rabbul `Arsyil Azhiim wa laa hawla wa laa quwwata illa billaahil `Aliyyil `Azhiim/wa shallallaahu `alaa Sayyidinaa Muhammad wa `alaa aalihi wa shahbihi wa sallim ajma`iin/subhaana rabbika rabbil `izzati `amaa yashifuun wa salaamun `alal mursaliin wal hamdulillaahi rabbil `aalamiin

Bismillahir Rahmaanir Rahiim

Allaahumma inni as-aluka bi musyaahadati asraaril muhibbiin wa bil khalwatillatii khashashta bihaa sayyidal mursaliin hiina asrayta bihi laylatas saab`i wal `isyriin an tarham qalbii al haziin wa tujiibu da`wati yaa Akramal Akramiin yaa Arhamar Raahimiin/ wa shallallaahu `alaa Sayyidinaa Muhammad wa `alaa aalihi wa shahbihi wa sallim ajma`iin

Bismillahir Rahmaanir Rahiim

Laa ilaaha ill-Allah Muhammadur-Rasuulullaah yaa Rahmaan yaa Rahiim yaa Musta`aan yaa Allah yaa Muhammad shalla-Allaahu `alayhi wa sallam yaa Abaa Bakr yaa `Umar yaa `Utsmaan yaa `Alii yaa Hasan yaa Husayn yaa Yahyaa yaa Haliim yaa Allah wa laa hawla wa laa quwwata illa billaahil `Aliyyil `Azhiim

Astaghfirullaah dzul Jalaali wal ikraam min jamii`idz-dzunuub wal atsaam/aamiin

Sumber:

The Naqshbandi Sufi Tradition: Guidebook of Daily Practices and Devotions

by Shaykh Muhammad Hisham Kabbani

© 2004, Islamic Supreme Council of America



*Untuk Kalangan Sendiri