Monday, May 20, 2019

Doa Niat Syifa

Berkat Abah Sekumpul
"Apabila minum air putih atau obat
Bacalah." Bismillahirrahmanirrahim
Nawaitussyifa ' bibarokatil musthofa Shollallohu alaihi wasalam".Artinya,aku niat memperoleh
Kesembuhan dengan berkat Rasulullah
Shallallahu alaihi wa salam.

Fadilahnya di jauh kan dari segala penyakit
Dzohir batin dan seluruh anggota badan
Di mudahkan berbuat keta'atan berkat Nuur Muhammad SAW

Friday, May 17, 2019

Catatan tambahan ttg rezki

Ijazah Melancarkan Rizki dari Gus Baha'

KH Bahauddin atau lebih dikenal dengan Gus Baha' adalah putra Kiai Nur Salim, pengasuh pesantren Alquran di Kragan, Narukan, Rembang. Bapak beliau  adalah murid dari Kiai Arwani Kudus dan Kiai Abdullah Salam, Kajen, Pati. Nasabnya bersambung kepada para ulama besar.

Beliau mempuyai ciri khas mengajarkan berislam dengan optismis dan bergembira. Pada sa'at mengajar khususnya kitab Tafsir Jalalain, beliau menerangkan dari berbagai sisi, baik tata bahasa, ushul fiqih, hukum fiqih, sisi tasawuf "hakikat" dan tak lupa hikmah dari ayat tersebut

Salah satu Ayat yang diterangkan hikmahnya adalah surat An-Nur ayat 61. Ayat ini menerangkan tentang adab masuk rumah sendiri maupun orang lain. menurut riwayat, Asbabun Nuzul , dari ayat ini berkenaan dengan seseorang yang merasa berdosa jika ia makan sendirian. Jika ia tidak menemukan seseorang yang mau makan bersamanya, maka ia tidak mau memakan makanannya.

Gus Baha' mengijazahkan amalan, agar rizki kita lancar dan tidak menjadi fakir, yaitu pada sa'at kita masuk rumah khususnya rumah kita sendiri, yang dimungkinkan tidak ada orang yang menjawabnya, maka kita membaca salam untuk diri kita sendiri dengan membaca "Assalaamu 'Alainaa Wa Alaa `Ibaadillaahish Shaalihiin" yang artinya, "Keselamatan semoga dilimpahkan kepada diri kami dan hamba-hamba Allah yang saleh". Dan para Malaikat yang akan menjawab salam yang kita ucapkan.

Kenapa orang yang mengucapkan salam tersebut rizkinya lancar ? Gus Baha' menerangkan, bahwa orang yang  mengamalkan, mendapatkan jaminan dari Allah, swt " tahiyyatan min indhillahi mubarakatan thayyiba ". Mendapatkan keberkahan dari sisi Allah swt. Dan tidak mungkin orang yang mendapatkan keberkahan hidupnya miskin.

~ Abi Husna~

Monday, May 13, 2019

Wirid ya afuuw

TASBIH YAA `AFUUW

Syah Naqsyband (q) berdoa, "​Ya​a `Afuuw, wahai Yang Maha Pemaaf!"  Jadi sekarang kita ucapkan sebagaimana yang beliau ucapkan, "Yaa `Afuuw!" dan insyaAllah dosa-dosa kita akan diampuni.  Grandsyekh kita mengajarkan kepada kita bahwa dosa orang-orang yang mengucapkan, "Yaa `Afuuw” atau “Bismillaahi 'r-Rahmaani 'r-Rahiim” atau “Laa ilaaha illa-Llaah” akan diampuni.  ‘Laa ilaaha illa-Llaah’ dan ‘Bismillaahi 'r-Rahmaani 'r-Rahiim’ adalah kunci-kunci menuju Surga dan ‘Yaa `Afuuw’ adalah kunci untuk menghapuskan dosa-dosa kalian dan membawa kalian ke Tepian yang Aman!  Jadi ucapkanlah kata-kata ini 100 kali sebagai tasbih harian kalian dan insyaAllah kehidupan kalian akan menjadi lebih baik.

~Shaykh Hisham Kabbani ❤️
FOTO hari Sabtu, 11 Mei 2019 di Zawiyah Fenton

Tuesday, May 7, 2019

Doa setelah witir

Allahummathli' 'alaynaa laylatal qadril 'adhiimatal qadri fil yaqadhati wal manaam.
7X

Tuesday, April 16, 2019

Doa Hifz / Perlindungan

Do'a Perlindungan yang diijazahkan oleh Mawlana Shaykh Muhammad Nazim Al-Haqqani (ق), untuk dibaca 7x sehari.

دعاء حفظ ٧ مرّة يوميا

أَسْأَلُكَ بِإِسْمِكَ الْعَظِيمِ التَّامِّ الْكَبِيرِ أَنْ لَا تُسَلِّطَ عَلَيْنَا جَبَّارًا عَنِيدًا وَلَا شَيْطَانًا مَرِيدًا وَلَا إِنْسَانًا حَسُودًا وَلَا ضَعِيفًا مِنْ خَلْقِكَ وَلَا شَدِيدًا وَلَا بَارًّا وَلَا فَاجِرًا وَلَا عَبِيدًا وَلَا عَنِيدًا.

"I ask You by Your Great, Perfect and Majestic Name, not to give any stubborn tyrant dominion over us, nor any rebellious Shaytan, nor an envier, nor a weak one among Your Creation, nor an oppressor, nor a ruinous one, nor a corrupt one, nor a slave, nor someone defiant".

- مولانا الشيخ محمّد ناظم الحقّاني (ق)

As'aluka bi-'ismika 'l-`azhiimi 't-taammi 'l-kabiiri an laa tusallitha `alaynaa jabbaaran `aniidan wa laa syaythaanan mariidan wa laa insaanan hasuudan wa laa dha`iifan min khalqika wa laa syadiidan wa laa barran wa laa faajiran wa laa `abiidan wa laa `aniidaa

Aku memohon dengan Nama-Mu yang Agung, Sempurna, dan Besar, agar tidak memberi kekuasan kepada tiran yang keras kepala terhadap diriku, begitu pula dengan Setan pemberontak atau seorang penghasud atau orang yang lemah di antara ciptaan-Mu dan tidak pula seorang penindas, perusak dan orang yang korup, seorang budak dan orang yang sesat.

Wednesday, April 10, 2019

Islam di Indonesia

Bayt al-Hikmah Institute

Fakta Kedatangan Sahabat Nabi di Nusantara

Ahmad Yanuana Samantho

4 tahun yang lalu

Iklan

Islamoderat.com ~ Berdasarkan catatan Pustaka Rajyarajya i Bhumi Nusantara parwa I sarga 3, pada sekitar tahun 536 Masehi ditepian sungai musi, telah ada sebuah pelabuhan Internasional.

Pelabuhan ini, menjadi sarana pengiriman barang berupa tanaman gaharu, rempah wangi, pala, dan kapur barus, ke berbagai Negara seperti Yaman, Mesir, Cina, India, Persia dan sebagainya. Pelabuhan Internasional ini merupakan sebuah wilayah otonom, yang bernama Sriwijaya, dan daerah ini berada di bawah kendali Kerajaan Melayu, Sribuja.

Sriwijaya dan Utusan Rasulullah

Pada sekitar tahun 628 M, penguasa Sriwijaya kedatangan utusan dari Tanah Arab, bernama Akasyah bin Muhsin al-Usdi. Akasyah diutus oleh Nabi akhir zaman, Muhammad Rasulullah, untuk menyampaikan dakwah Islam, kepada Penguasa Sriwijaya.

Doa Akasyah bin Muhsin al Usdi

Utusan Rasulullah ini, mendapat sambutan yang baik, oleh Penguasa Sriwijaya ketika itu. Salah satu alasannya, Islam adalah ajaran monotheisme, yang memiliki kemiripan dengan keyakinan yang dianut sebagian bangsawan Sriwijaya.

Keyakinan Monotheisme di Kerajaan Sriwijaya, dikenal sebagai Ajaran Braham (ajaran monotheime peninggalan Nabi Ibrahim). Keberadaan ajaran Braham pada saat itu, bisa terliihat pada catatan Fa Xian/Fa Shien sepulang dari India di era tahun ke-7 Kaisar Xiyi (411M).

“Kami tiba di sebuah negeri bernama Yapoti (Jawa dan atau Sumatera) di negeri itu Agama Braham sangat berkembang, sedangkan Buddha tidak seberapa pengaruhnya.“


Hal ini, semakin diperkuat dengan adanya pendapat yang mengatakan, pada sekitar tahun 607 Masehi, telah ada Kerajaan Sriwijaya (Sriboza) yang bercorak Brahminik (Early Indonesian Commerce : A Study of the Origins of Srivijaya, by Wolters, 1967 dan Maritime Trade and State Development in Early South East Asia, by K.R. Hall, 1985).

Untuk kemudian dakwah Islamiyah di tanah Sriwijaya ini terus berlanjut, terutama dilakukan oleh Para Pedagang dari jazirah Arab. Bahkan salah seorang Penguasa Sriwijaya, yang bernama Sri Indrawarman, diperkirakan seorang muslim, yang menjalin persahabatan dengan Khalifah Islam, Umar bin Abdul Aziz.

Sriwijaya dan Palarian Politik

Sebagian penduduk Kerajaan Sriwijaya, jika diselusuri secara genealogy, ternyata ada yang masih terhitung kerabat Kerajaan Persia. Hal ini tergambar di dalam kitab sejarah melayu, yang mengisahkan pemimpin wilayah Palembang, Demang Lebar Daun, merupakan anak cucu Raja Sulan, keturunan dari Raja Nusirwan ‘Adil bin Kibad Syahriar (King Anushirvan “The Just” of Persia, 531-578 M).

Ada dugaan keberadaan keluarga Kerajaan Persia ini, dikarenakan terjadinya konflik internal di Persia, sepeningal Raja Nusirwan ‘Adil, yang berakibat, sebagian Bangsawan Persia mengungsi ke Kerajaan Sriwijaya.

Para pelarian politik Persia ini, dimanfaatkan oleh para penguasa Sriwijaya, untuk dijadikan instruktur di angkatan perang-nya. Bahkan dalam upaya memperkuat pasukannya, Kerajaan Sriwijaya mendirikan pangkalan militer di daerah Minanga yang berada di tepian sungai komering.

Pada tahun 669 Masehi, Sriwijaya dipimpin oleh Dapunta Hiyang Sri Jayanaga. Sang Raja, dikenal seorang yang sangat berwibawa, dan dengan kekuatan angkatan perang-nya, yang sangat terlatih. Sriwijaya mulai menaklukkan beberapa daerah disekitarnya. Bahkan kemudian Kerajaan induknya, Kerajaan Sribuja berhasil dikuasai.

Pelarian politik juga berasal dari wilayah Cina. Kedatangan mereka ini disebab-kan terjadinya peristiwa pemberontakan petani-petani muslim Cina terhadap kekuasaan Dinasti T’ang di masa pemerintahan Kaisar Hi-Tsung (878-889

BACA INI JUGA :

Abu Bakar Ash-Shiddiq, Sang Khalifah RasulullahIslamoderat.com ~ Nama lengkap Abu Bakar Ash-Shiddiq adalah Abdullah bin Abi Quhafah Utsman bin Amir bin Amr bin Ka’ab bin Sa’ad bin Tay… Read More…Sejarah Awal Puasa dalam IslamIslamoderat.com ~ Tahu ngga kalau Puasa Ramadan adalah ibadah yang diwajibkan Allah Swt kepada umat Islam pada tahun ke-2 Hijriah? Ya, se…Read More…Sejarah Raja Islam Pertama di Pulau BaweanIslamoderat.com ~ Penyebaran agama Islam di Pulau Bawean tidak dapat terlepas dari jasa Syekh Maulana Umar Mas’ud. Beliau merupakan Sunan …Read More…Sejarah Tragedi Pasukan Tartar Dalam Dunia IslamIslamoderat.com ~ AL MUWAFAQ berkata; “..Jika kita berbicara mengenai orang-orang Tartar maka kita membicarakan sejarah yang seakan mengha… Read More…Musnahnya Wahhabi dan Bangkitnya Kembali Menjadi Kerajaan Arab SaudiIslamoderat.com ~ Tahun 1744, terjadi kemitraan antara Muhammad bin Abdul Wahab dengan Ibnu Saud melalui upacara sumpah yang menetapkan Ibn… Read More…

Kaum muslimin banyak mati dibunuh dalam pemberontakan itu, sehingga mereka yang selamat melarikan diri ke berbagai negara, termasuk ke kota Palembang, yang menjadi pusat Kerajaan Sriwijaya.

Keberadaan Pelarian Politik asal Persia dan Cina, Kemudian Para Pedagang Arab yang sekaligus juga juru dakwah Islam, serta berdirinya pusat-pusat pengajaran agama Buddha di Kerajaan Sriwijaya, menunjukkan bahwa negeri ini, merupakan daerah yang sangat pluralis, dimana penduduknya terdiri atas berbagai suku dan ras, serta memiliki keyakinan yang beragam.

Catatan :

1. Keberadaan Akasyah bin Muhsin al-Usdi di Sriwijaya, diperkirakan setelah perjanjian Hudaibiyah tahun 6H. Pada masa itu, Rasulullah memperkenalkan Islam melalui surat yang beliau kirimkan, kepada para penguasa, pemimpin suku, tokoh agama nasrani dan lain sebagainya.

2. Pendapat yang mengatakan Akasyah bin Muhsin al-Usdi di Sriwijaya, pada sekitar tahun 2H, nampaknya perlu diteliti lebih mendalam lagi. Hal ini disebabkan, berdasarkan fakta sejarah, pada saat tersebut, kaum muslimin sedang berkosentrasi menghadapi kaum kafir Quraish. Jadi terasa agak aneh, jika ada sahabat yang berada jauh dari kota madinah.

3. Beberapa Sahabat Rasulullah yang pernah berdakwah di Nusantara

1Ali bin Abi Thalib, pernah datang dan berdakwah di Garut, Cirebon, Jawa Barat (Tanah Sunda), Indonesia, tahun 625 Masehi. Perjalanan dakwahnya dilanjutkan ke dari Indonesia ke kawasan Nusantara, melalui: Timur Leste, Brunai Darussalam, Sulu, Filipina, Singapura, Thailand, Vietnam, Laos, Myanmar, Kampuchea. (Sumber: H.Zainal Abidin Ahmad, Ilmu politik Islam V, Sejarah Islam dan Umatnya sampai sekarang, Bulan Bintang, 1979; Habib Bahruddin Azmatkhan, Qishshatud Dakwah Fii Arahbiliyyah (Nusantara), 1929, h.31; S. Q. Fatini, Islam Comes to Malaysia, Singapura: M. S. R.I., 1963, hal. 39)

2. Ja’far bin Abi Thalib,berdakwah di Jepara, Kerajaan Kalingga, Jawa Tengah (Jawa Dwipa), Indonesia,sekitar tahun 626 M/ 4 H. (Sumber: Habib Bahruddin Azmatkhan, Qishshatud Dakwah Fii Arahbiliyyah (Nusantara), 1929, h.33)

3. Ubay bin Ka’ab, berdakwah di Sumatera Barat, Indonesia, kemudian kembali ke Madinah. sekitar tahun 626 M/ 4 H. (Sumber: Habib Bahruddin Azmatkhan, Qishshatud Dakwah Fii Arahbiliyyah (Nusantara), 1929, h.35)

4. Abdullah bin Mas’ud, berdakwah di Aceh Darussalam dan kembali lagi ke Madinah. sekitar tahun 626 M/ 4 H. (Sumber: G. E. Gerini, Futher India and Indo-Malay Archipelago)

5. ‘Abdurrahman bin Mu’adz bin Jabal, dan putera-puteranya Mahmud dan Isma’il, berdakwah dan wafat dimakamkan di Barus, Tapanuli Tengah, Sumatera Utara. sekitar tahun 625 M/ 4 H. (Sumber: Habib Bahruddin Azmatkhan, Qishshatud Dakwah Fii Arahbiliyyah (Nusantara), 1929, h.38)

6. Akasyah bin Muhsin Al-Usdi, berdakwah di Palembang, Sumatera Selatan dan sebelum Rasulullah Wafat, ia kembali ke Madinah. sekitar tahun 623 M/ 2 H. (Sumber: Habib Bahruddin Azmatkhan, Qishshatud Dakwah Fii Arahbiliyyah (Nusantara), 1929, h.39; Pangeran Gajahnata, Sejarah Islam Pertama Di Palembang, 1986; R.M. Akib, Islam Pertama di Palembang, 1929; T. W. Arnold, The Preaching of Islam, 1968)

7. Salman Al-Farisi, berdakwah Ke Perlak, Aceh Timur dan Kembali Ke Madinah. sekitar tahun 626 M/ 4 H. (Sumber: Habib Bahruddin Azmatkhan, Qishshatud Dakwah Fii Arahbiliyyah (Nusantara), 1929, h.39)

8. Zaid ibn Haritsah, berdakwah di Kerajaan Lamuri/Lambari (Lambharo/Lamreh, Aceh) pada tahun 35 H (718 M).

9. Wahab bin Abi Qabahah, telah mengunjungi Riau dan menetap selama 5 tahun di sana sebelum pulang ke Madinah. Dipetik dari kitab ‘Wali Songo dengan perkembangan Islam di Nusantara’, oleh Haji Abdul Halim Bashah, terbitan Al Kafilah Enterprise, Kelantan, 1996, m/s 79, bab 9, ISBN 983-99852-8-0

Monday, April 8, 2019

Rejeki

Share amalan pembuka rejeki dari MSH / SGH :
Sholawat Tunjina 7x setiap bakda sholat
Sholawat Fatih 10x tiap pagi dan petang
Al Fiil 21x tiap bakda lohor

Semoga kita semua dibuka dan dimudahkan segala urusan dunia dan akhirat nya, rejeki lahir batin nya, aamiinn

*Untuk Kalangan Sendiri